Breaking News

Insiden Penganiayaan Aktivis Lingkungan Di Desa Silimalombu, Kabupaten Samosir, Selasa 15 Agustus 2017

Insiden Penganiayaan Aktivis Lingkungan Di Desa Silimalombu, Kabupaten Samosir, Selasa 15 Agustus 2017.

Berikut tanggapan Jhohannes Marbun alias Joe, salah seorang aktivis Lingkungan Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) dan Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) yang dianiaya.

Bapak/Ibu dan para sahabatku sekalian…

Begitu banyak para pihak yang bersimpati dan bertanya dengan menghubungi kami baik melalui telpon, sms, wa dan saluran media sosial lainnya mengenai kebenaran informasi di media massa maupun media sosial menyangkut insiden penganiayaan, pemukulan, pengeroyokan, ‘penahanan’ bahkan disertai upaya pelecehan seksual (mempelorotkan celana salah satu korban) atas nama korban saya sendiri Joe Marbun dan Sebastian Hutabarat di lokasi Galian C di Desa Silimalombu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara pada Selasa, 15 Agustus 2017 pukul 08.00 WIB sampai dengan beberapa jam berikutnya.

 Baiklah agar dapat menjawab semua pertanyaan Bapak/Ibu dan para Sahabat sekalian, saya akan menyampaikan jawabannya disini.

Pertama, Saya mengucapkan terimakasih atas kepedulian para sahabatku semua baik melalui telpon, sms, wa, maupun melalui media sosial lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Dukungan dan kepedulian para sahabatku semua adalah kekuatan luar biasa untuk menghadapi ujian ini.

Kedua, Bahwa insiden di Silimalombu tersebut BENAR ADANYA sebagaimana telah kami laporkan kepada Pihak berwajib yaitu Kepolisian Polres Samosir pada selasa Malam, setelah sebelumnya Kapolsek Onan Runggu dan tim membawa kami keluar dari Desa Silimalombu sekitar pukul 15.00 WIB.

 Kami berterimakasih atas kesigapan aparat Kepolisian setempat sekalipun akses jalan menuju lokasi harus ditempuh sekitar 2-3 jam perjalanan, sekalipun dari sisi jarak tidaklah terlalu jauh (lokasi berbukit sehingga harus memutar melalui kecamatan lain).

 Pada Selasa malam itu juga, setelah Laporan Polisi dan BAP, kami kembali ke Balige, Kabupaten Tobasa di kawal oleh Polres Samosir keluar dari Kabupaten Samosir. Seharian penuh hari Rabu (16 Agustus 2017), saya beristirahat di Laguboti, Kabupaten Tobasa, dan pada hari Kamis (17/08/2017).

 Saya kembali ke Jakarta atas permintaan dari Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Drs Maruap Siahaan, MBA dan Andaru Satnyoto, SIP., M.Si selaku pimpinan yayasan menugaskan kami selama berada di kawasan Danau Toba.

 Saat ini, saya sedang dalam proses pemulihan dan istirahat.

 Sebagai informasi, melalui rekan saya Sebastian Hutabarat yang juga menjadi korban dalam insiden tersebut, kami telah mengirimkan surat kepada Kepala Kepolisian Daerah dan Ditprovam Polda Sumut per tanggal 21 Agustus 2017 agar kasus tersebut menjadi perhatian dan/atau ditarik penanganannya di wilayah Polda Sumut untuk menghindari intervensi dari beberapa pihak yang sangat memungkinkan terjadi di wilayah tersebut.

 Hal ini kami lakukan, karena sampai tanggal 21 Agustus 2017, pihak Kepolisian Resort Samosir belum menetapkan satupun TERSANGKA dalam kasus tersebut, padahal jelas-jelas bukti baju robek dan berdarah, visum dari dokter, serta saksi korban maupun saksi lainnya sudah lengkap.

Ketiga, Kami juga mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pihak yang secara langsung maupun tidak langsung berperan dalam ‘aksi penyelamatan’ dan memantau terus dari kejauhan detik per detik insiden di Silimalombu terutama kepada Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Drs Maruap Siahaan MBA yang telah mengkomunikasikan kepada para pihak (termasuk pihak berwajib, aparat pemerintahan, aparat negara, maupun masyarakat setempat) untuk memantau dan mengawal insiden tersebut.

 Kronologi kejadian sudah kami buat dan segera dipublikasikan melalui saluran resmi YPDT yang saat ini dibawah koordinasi Ketua Umum, Sekretaris Umum, Ketua Departemen Hukum dan Agraria YPDT (Sandy Ebenezer Situngkir SH, MH dkk), dan Tim Litigasi YPDT (Sdr Robert Paruhum Siahaan, SH dkk). Bagi para pihak yang hendak memberikan solidaritas maupun bantuan hukum, dapat mengkoordinasikan kepada nama-nama tersebut, sebagaimana kontak di bawah ini.

Keempat, Keprihatinan dan suara Bapak/Ibu/ Saudara-saudari sekalian yang menghendaki hukum ditegakkan dan keadilan bagi semua pihak, kiranya dapat diwujudkan dengan mendesak dan memberi sikap kepada aparat penegak hukum untuk menjalankan tugasnya secara jujur, transparan, dan disertai dengan integritas.

 Kasus yang kami alami adalah puncak gunung es dari banyak kasus yang melibatkan masyarakat kecil lainnya di kawasan Danau Toba, tetapi kemudian menguap karena disinyalir melibatkan oknum penguasa. Oleh karena itu, kami mengajak semua pihak untuk selalu berdoa dan mendukung dengan memantau dan mengawal kasus ini sampai tuntas dan sekaligus menjadi pembelajaran bersama bahwa hukum benar-benar tegak (dengan asas kepastian hukum dan prinsip demi keadilan).

Kiranya kedepan tidak ada lagi suara-suara yang hendak menyampaikan kebenaran dibungkam, dan setiap individu maupun masyarakat benar-benar MERDEKA dan merasa menjadi pemilik Indonesia sesungguhnya sebagaimana kita saat ini merayakan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72, sekaligus hal ini bertepatan dengan momentum sejarah berdirinya YPDT 22 tahun silam untuk mengawal kelestarian lingkungan dan budaya kawasan Danau Toba.


Kiranya Tuhan selalu menolong kita semua. Amin.

Jakarta, 22 Agustus 2017

Jhohannes Marbun

Leave a comment

Your email address will not be published.


*