Breaking News

Ingat, Nasib Belum Membaik, Di 2019 Buruh Tak Mau Lagi Pilih Capres Janji Surga

Ingat, Nasib Belum Membaik, Di 2019 Buruh Tak Mau Lagi Pilih Capres Janji Surga.

Selama tiga tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, buruh Indonesia tidak merasa mengalami perbaikan nasib yang memadai. Malah, persoalan demi persoalan pelik di sektor perburuhan terus menerus terjadi.

 

Oleh karena itu, di 2019 nanti buruh berjanji tidak akan mau terjebak lagi memilih Calon Presiden (Capres) yang ngomong manis di depan. Buruh akan memilih Capres yang sesuai kriteria yang dibutuhkan buruh, yakni untuk mengangkat nasib buruh menjadi semakin lebih sejahtera.

 

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Andi Naja FP Paraga menyampaikan, sejumlah persoalan perburuhan malah tidak diselesaikan di era pemerintahan kali ini.

 

Janji-janji Capres di Pilpres lalu hanya tinggal janji. Buruh tetap menderita dan tak mendapat peningkatan kesejahteraan.

 

“Hingga saat ini belum ada tertangkap radar kaum buruh tentang Calon Presiden yang memenuhi kriteria yang dikehendaki masyarakat banyak terutama yang dikehendaki kaum buruh atau pekerja di Tanah Air. Walau ada pembangunan opini oleh Partai Politik dan media massa terhadap figur tertentu, tapi semua itu belum tepat bagi kaum buruh,” tutur Andi Naja FP Paraga, di Jakarta, Sabtu (28/01/2018).

 

Menurut dia, Capres masa depan yang diinginkan kaum buruh bukanlah orang yang hanya mampu menciptakan ironi, juga bukan hanya mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi, tetapi pemerataan ekonomi.

 

“Tidak hanya mampu memperkaya mereka yang sudah terlanjur kaya tetapi juga harus mau dan mampu mensejahterakan kaum buruh, tani, nelayan, pekerja rendahan,” ujar Andi.

 

Selai itu, kriteria lainnya yang harus dimiliki Capres 2019 yakni juga harus mau dan mampu memberi solusi terhadap pekerja honorer yang tak kunjung jelas nasibnya. Capres mendatang juga harus berani melawan Pemutusan Hubungan Kerja(PHK), bertindak tegas terhadap Pelaku Pemberangusan Serikat Buruh(Union Busting) dan menyediakan Upah Layak bagi para buruh, pekerja, karyawan, pegawai.

 

“Jika orientasi kepemimpinan seorang calon presiden seperti yang terungkap di atas tentu layak memimpin Indonesia di masa akan datang,” ujar Andi Naja.

 

Lebih lanjut, Andi menekankan bahwa bagi Serikat Buruh tidak ingin lagi Presiden yang tak mampu memperbaiki nasib buruh. Buruh dan mayoritas rakyat Indonesia menghendaki Presiden yang tidak hanya bicara tentang data angka kemiskinan yang sudah berkurang ,tetapi faktanya justru kemiskinan bertambah.

 

“Banyaknya jumlah buruh yang di-PHK jelas merupakan fakta bahwa angka kemiskinan bertambah. Semangat para wanita muda dan Ibu Rumah Tangga untuk menjadi TKW di Luar Negeri adalah bukti kemiskinan itu bertambah. Banyaknya Jumlah Yayasan atau Lembaga Outsourcing adalah fakta bahwa angka pengangguran membengkak. Itulah fakta dari tahun ke tahun yang kian memprihatinkan,” ujarnya.

 

Menurut Andi, Pilpres 2019 tidak hanya sangat menentukan wajah Indonesia di era kompetisi global yang semakin ketat, tetapi juga harus memiliki visi nasional dan global yang brilliant serta harus memiliki strategi dan sistem mewujudkan kesejahteraan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya untuk seluruh Rakyat Indonesia.

 

Menurut Andi, tidaklah penting apakah latar belakangnya sipil atau militer, sepanjang ia memiliki jejak rekam mengkonkritkan kesejahteraan, keberpihakannya pada pembangunan yang seimbang antara Pembangunan Infrastruktur dan Pembangunan Sumber Daya Manusia(SDM) Bangsa Indonesia.

 

“Keseimbangan antara pesatnya pembangunan mental spritual dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh anak bangsa,” tutur Andi.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*