Breaking News

Indonesia Sedang Anomali Politik Destruktif, Kaum Muda Jangan Jadi Sampah Demokrasi

Indonesia Sedang Anomali Politik Destruktif, Kaum Muda Jangan Jadi Sampah Demokrasi.

Indonesia sedang mengalami anomaly politik yang destruktif. Oleh karena itu, kaum muda Indonesia diharapkan belajar mengenali politik yang sehat dengan menghalau kebohongan dan pembohongan yang menyesatkan, sehingga ke depan Indonesia bisa menghadapi berbagai persoalan pelik, tanpa harus menjadi sampah dalam pusaran pertarungan dunia yang semakin tak terbendung.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Publik Jaringan Aktivis Indonesia (Jarak Indonesia), bertema Aktivis Millenial Menangkal Hoax Demi Terciptanya Pemilu 2019 Yang Damai dan Rukun. Diskusi yang digelar di Gedung Joang, Jalan Menteng Raya Nomor 31, Jakarta Pusat itu, menghadirkan Politisi Senior Akbar Tanjung, Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi, Direktur Eksekutif Indo Survey & Strategy Dr Hendrasmo dan Politisi Nasdem Ivanhoe Semen.

Dalam penyampaiannya, Direktur Eksekutif Indo Survey & Strategy Dr Hendrasmo memaparkan, Indonesia sedang dirundung politik anomaly yang destruktif.

“Saat ini, kalangan politisi Indonesia, kaum birokrat, kaum muda, dan hamper semua segmen tengah mengalami anomalI politik. Bahkan, sekelas pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi pun kewalahan mengatasi dan memberantas hoax. Intinya, kita sedang berada pada anomaly politik yang destruktif,” tutur Hendrasmo.

Bahkan, Negara Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai salah satu Negara kampiun demokrasi, menurut Hendrasmo, kini tengah dirundung politik destruktif. Hal itu tergambar dari upaya Presiden AS Donald Trump yang begitu risau dengan kondisi demokrasi di negerinya. Sehingga, Trump memanggil para petinggi militernya untuk sumpah setia.

“Hal ini krena ia takut,  apa yang terjadi di negerinya dianggap bagian dari permainan Rusia. Trump memecat jaksa yang terkenal sangat konsen dan lurus dalam hal penumpaasan korupsi. Trump juga mengangkat anaknya menjadi bagian dari petinggi di negerinya,” tutur Hendrasmo.

Paling tidak, lanjut Hendrasmo, dalam kontestasi politik, ada 18 % rezim jatuh karena kudeta. Mulai dari cerita Fraancis Fukuyama. “Semua itu bisa dimulai karena terjadinya disinformasi atau informasi yang tidak akurat,” ujarnya.

Sedangkan, Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi memaparkan, ke depan ini, banyak tantangan yang dihadapi Indonesia, termasuk Revolusi Industri 4.0.

Bagaimanapun, lanjutnya, sudah sangat sulit menghempang derasnya kemajuan teknologi informasi yang telah menyihir hamper semua kalangan dan Negara bangsa.

“Sebanyak 70 % penduduk bonus demokrasi kita menghidupi 30 % penduduk kita. Jika kaum muda tidak aktif, maka kita hanya akan menjadi sampah yang tiada guna. Kita harus mampu menguasai perkembangan zaman terutama dalam hal teknologi,” ujar Bursah.

Dia mengingatkan, jika suatu kebohongan terus menerus disebar, maka akan membangun image bahwa hal tersebut adalah sebuah kebenaran.

Oleh sebab itu,menurut dia, adalah menjadi salah satu tugas kaum muda menangkal hoax. Indonesia, lanjutnya, memiliki modal sosial yang sangat besar, sehingga harus dipadu untuk membangun bangsa Indonesia.

Busrah menyebut, dalam Penelitian yang dirilis United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), bangsa Indonesia masih berada di urutan ke 61 dalam hal literasi.

“Itu hanya beda satu tingkat dari Afrika. Berarti dalam hal ini dari 1000 ribu orang, hanya 1 orang yang membaca. Dan itu hanya 30 menit waktu yang disediakn,” ungkapnya.

Menurut Bursah, ke depan,  medan perang sudah beralih dari nyata menjadi perang digital yang sangat berbaha. Jika Indonesia tidak mampu menguasai dan mengantisipasi hal tersebut, maka Indonesia akan habis.

“Anjuran saya, kita satukan tekad kita dengan terus merajut keragaman sosial yang dimiliki oleh bangsa ini,” ujarnya.

Sementara itu, Politisi Nasdem Ivanhoe Semen menyampaikan, sebanyak 40-50 persen pemilih di Indonesia adalah kaum millennial. Seharusnya, jumlah itu setara dengan 90 juta orang yang memiliki cara berpikir maju dan tidak sektarian.

Para millennial juga seharusnya lebih obyektif dfan rasional dalam menentukan pilihan. Dia mengatakan, para pemuda, yang terutama kini banyak dikenal sebagai kaum millennial, adalah potensi besar Indonesia melakukan perubahan yang lebih baik.

Ketua Jaringan Aktivis Indonesia (Jarak Indonesia) Antoni Yudha mengatakan, kaum muda tidak akan mudah terhanyut dengan isu hoax dan juga permainan-permainan politik kebohongan.

“Kita harus mempu menelaah isu yang berkembang, harapannya adalah kaum muda tercerahkan, agar tidak hanyut dalam permainan yang mengarah pada disintegrasi bangsa,” ujarnya.

Sebagai pemateri utama, Politisi Senior Akbar Tanjung menyampaikandalam persfektif Negara Demokrasi, Indonesia masuk dalam tiga Negara terbesar. India, Amerika Serikat dan Indonesia.

“Generasi milenial pun diharapkan turut aktif dan terlibat dalam proses demokrasi yang akan berjalan ke depan. Di sinilah kita harapkan, genersi milenial menjaga kemajemukan dan spirit kita dalam menjalankan demokrasi,” ujar Akbar Tanjung.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*