Breaking News

Indonesia Hadapi Ancaman Serius, Segeralah Lakukan Percepatan Regenerasi Petani

Kedaulatan pangan pangan tidak akan terwujud bila pemerintah tidak memilik keseriusan melakukan regenerasi petani.

 

Semua yang berkaitan dengan reforma agraria, kedaulatan pangan, dan pembangunan masyarakat desa, terutama sektor pertanian, bertumpu pada subyek pertanian itu sendiri, yakni lahan dan petani.

 

Direktur Eksekutif Nasional Rumat Tani Indonesia (RTI) Jones Batara Manurung menyampaikan, kekuatan personil petani Indonesia kali ini sudah kian merosot. Yang menjadi petani di Indonesia saat ini rata-rata berusia 55 tahun ke atas. Artinya, sudah tidak terjadi regenerasi petani di Indonesia.

 

“Dikarenakan oleh orang-orang muda tidak mau lagi menjadi petani. Menjadi petani selalu diidentikkan dengan kehidupan miskin dan bodoh. Itu masih terjadi. Angkatan kerja Indonesia secara besar-besaran pun hengkang dari petani. Selain itu, lahan untuk pertanian pun terus menerus menyusut. Sudah tidak memadai lahan untuk pertanian,” tutur Jones Batara, di Jakarta, Rabu (08/03/2017).

 

Karena itu, dia mendorong pemerintah mencarikan solusi yang efektif bagi regenerasi petani di Indonesia, agar tetap menjadi profesi yang membanggakan dan maju.

 

“Salah satunya dengan menyediakan insentif bagi petani demi menjamin produksi pertanian, agar petani menjadi kekuatan yang konsisten dalam mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia. Pemerintah harus mengupayakan agar angkatan kerja tetap tertarik dan mau menjadi petani,” ujarnya.

 

Kemudian, penyediaan alat dan sarana produksi pertanian pun mesti dilengkapi oleh pemerintah, serta melakukan upaya-upaya melindungi petani itu sendiri. Sebab, menurut Jones, kedaulatan pangan akan terwujud bila subyek yakni si petani sendiri hidupnya lebih sejahtera.

 

Impor bahan pangan, lanjut dia, bukanlah solusi dalam memenuhi kebutuhan dan pencapaian kedaulatan pangan di Indonesia.

 

Untuk itu lahan yang memadai bagi pertanian yang dikerjakan oleh petani Indonesia itu sendiri sangat perlu diwujudkan oleh pemerintah.

 

“Termasuk kebijakan harga yang harus mensejahterakan petani. Jika panen lagi besar, namun harga produk pertanian turun akan menghabisi kemauan petani untuk meneruskan hidupnya sebagai petani. Kebijakan-kebijakan lainnya yang berkenaan dengan pertanian dan penguasaan lahan juga mestinya melindungi dan pro petani Indonesia,” tuturnya.
Jika tidak ada upaya melakukan regenerasi petani, lanjut dia, maka ke depan Indonesia akan menghadapi ancaman serius dalam memenuhi kebutuhan pangan, serta tidak akan tercapainya kedaulatan pangan.

 

“Intinya, tidak akan ada kedaulatan pangan itu, tanpa adanya kesejahteraan petani itu sendiri. Bahkan sudah tidak ada lagi nanti orang menjadi petani,” ujar Jones.(JR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*