Breaking News

Ikut Arak-Arakan Pembungkaman Suara Mahasiswa, Terindikasi Terima Uang Rp 1,5 Miliar Per Organisasi, Kader GMKI Desak Ketua Umum PP GMKI Sahat Marthin Mundur

Ikut Arak-Arakan Pembungkaman Suara Mahasiswa, Terindikasi Terima Uang Rp 1,5 Miliar Per Organisasi, Kader GMKI Desak Ketua Umum PP GMKI Sahat Marthin Mundur.

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jakarta melakukan aksi protes keras terhadap upaya pembungkaman dan pengebirian gerakan mengkritisi pemerintahan Jokowi.

 

Aksi yang digelar di jalur Jalan Diponegoro-Salemba Raya, Jakarta Pusat, itu meminta pimpinan organisasi mahasiswa dari Kelompok Cipayung Plus di tingkat nasional untuk menghentikan ulahnya menjadi kaki tangan rejim yang mencoba mengebiri dan membungkam gerakan mahasiswa dengan iming-iming uang Rp 1,5 miliar per organisasi serta Kegiatan Jambore Kebangsaan dan Kewirausahaan yang ditawarkan rejim Jokowi.

 

Koordinator Lapangan Aksi (Korlap) Christofel Manurung menyampaikan, pimpinan organisasi mahasiswa di tingkat nasional dari Kelompok Cipayung Plus telah masuk angin, dengan menggadaikan organisasi atau menjual diri dengan uang yang diduga sebesar Rp 1,5 per organisasi, serta adanya acara hura-hura berkedok gerakan mahasiswa dalam Kegiatan Jambore Kebangsaan dan Kewirausahaan yang akan digelar pada 24-29 Oktober di Bumi Perkemahan Mandalawangi, Cibodas, Jawa Barat.

 

“Para pimpinan nasional organisasi gerakan mahasiswa di tingkat nasional yakni Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia atau PP GMKI dan dari Cipayung Plus serta organisasi mahasiswa lainnya telah masuk angin dan diperalat dengan dugaan dikasih uang Rp 1,5 miliar serta kegiatan Jambore Kebangsaan dan Kewirausahaan, agar gerakan mahasiswa bungkam dan tidak mengkritisi kinerja rejim Jokowi yang hingga tiga tahun pemerintahan ini masih amburadul,” tutur Christofel Manurung, saat menyampaikan orasinya, dalam aksi yang digelar di depan Kantor Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI), Jalur Jalan Diponegoro-Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu, (04/10/2017).

 

Christofel mengatakan, gerakan mahasiswa kecewa dengan sikap OKP-OKP termasuk kepada Pengurus Pusat GMKI ( PP GMKI ) yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu, GMKI Jakarta menyampaikan, pelaksanaan kegiatan jambore kebangsaan dan kewirausahaan di tengah kondisi masyarakat yang masih mengalami kesulitan dalam akses ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, sosial dan lain-lain, tidaklah tepat.

 

“Katanya negara ini defisit anggaran, tidak ada uang, subsidi ditarik dari sana sini, aset dijual-jual untuk mengisi kas negara, kok gerakan mahasiswa bisa dibayari hingga Rp 1,5 miliar per OKP? Lalu dikemanakan lagi uang itu semua? Sikap dan tindakan mereka itu tidak lebih beradab dari pada para koruptor yang merampok uang negara,” tutur dia.

 

Selain menggelar orasi dan penyebaran selebaran berisi tuntutan, para peserta aksi juga menggelar spanduk untuk mengajak gerakan mahasiswa lainnya dan masyarakat untuk mendesak para pimpinan organisasi Cipayung Plus hengkang dan mengundurkan diri segera dari kepemimpinan.

 

“Mereka tidak layak memimpin gerakan. Mereka penjilat yang menyalahgunakan posisi mereka di organisasi. Mereka ini harus turun atau kita turunkan dari pucuk pimpinan organisasi kalau tidak mau mundur secara sadar,” tutur Christofel.

 

Ketua Bidang Aksi Pelayanan BPC GMKI Jakarta Donny Manurung mendesak Ketua Umum PP GMKI Sahat Marthin Sinurat agar segera mengundurkan diri dari posisi Ketua Umum.

 

Menurut Donny, seorang Ketua Umum organisasi Kemahasiswaan dan Kekristenan seperti yang sedangh diemban Sahat Marthin, adalah posisi yang sangat strategis dan harusnya menolak politik uang yang dipermainkan rejim.

 

“Sebaiknya mundur saja dari Ketua Umum, hengkang dan jangan kotori GMKI,” ujarnya.

 

Dia juga mengajak organisasi Cipayung Plus lainnya untuk melakukan hal yang sama terhadap pimpinan organisasinya masing-masing yang terindikasi bermain uang dan hendak mengebiri gerakan kritis yang dibangun oleh mahasiswa.

 

“Mereka harus transparan dan harus bertanggung jawab, dan jangan memperalat mahasiswa untuk keuntungan pribadi. Yang terindikasi mendapat uang dan menjual kepala kita harus diusir dan dimundurkan dari kepemimpinman structural tertinggi organisasi masing-masing,” pungkas Donny.(JR)

1 Comment on Ikut Arak-Arakan Pembungkaman Suara Mahasiswa, Terindikasi Terima Uang Rp 1,5 Miliar Per Organisasi, Kader GMKI Desak Ketua Umum PP GMKI Sahat Marthin Mundur

  1. Ronny Buha Sihotang // 6 Oktober 2017, 09:34 at 09:34 // Balas

    Sebagai anggota GMKI Jakarta (dulu alamatnya di Gondangdia Lama) tahun 1979-1984. Sangat malu adanya perpecahan ini.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*