Breaking News

Hoax Dan Hate Speech Lebih Berbahaya Daripada Korupsi

Hoax Dan Hate Speech Lebih Berbahaya Daripada Korupsi.

Ternyata masih ada kejahatan yang lebih berbahaya dari tindak pidana korupsi. Kejahatan hoax dan hate speech.

 Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyampaikan, dua jenis kejahatan baru itu mendapat peringkat tertinggi setelah kejahatan korupsi yang dilakukan oleh pejabat dan penegak hukum.

“Kabar bohong atau hoax, dan juga ujaran kebencian atau hate speech itu lebih berbahaya daripada perilaku koruptif. Karena kalau masayarakat sakit, yang dirusak adalah peta kognisi yang bisa menggangu seseorang dan merusak perilaku. Kalau korupsi yang dirusak adalah  APBN dan APBD.  Artinya itu akan lebih gampang diatasi dan diproses secara hukum,” ujar Emrus Sihombing, di Jakarta, Jumat (08/09/2017).

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif EmrusCorner ini mengatakan, selain tindak pidana korupsi memiliki daya rusak yang hebat dan melambatkan pembangunan fasilitas publik sehingga harus diberikan sanksi yang berat,  maka hoax dan hate speech juga harus diberikan sanksi yang super tegas. Karena itu, keseriusan pemerintah dan aparat hukum untuk memerangi hoax dan hate speech harus dilakukan dengan sangat bersungguh-sungguh.

“Masalahnya hate speech dan hoax itu melekat. Ketika  itu dilempar ke publik akan terus tertanam di peta kognisi. Oleh karena itu, penegakan hukum dalam bidang itu harus kita dukung. Pelakunya harus dihukum berat,” tegas Emrus.

Emrus juga mendesak perlunya perangkat dan aturan hukum untuk memberantas kejahatan hoax dan hate speech itu. Menurut dia, tidak hanya menggunakan Undang Undang  Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), namun perlu ada tindakan cepat untuk menghapus hoax agar tidak menyebar semakin luas.

“Di Jerman, ada aturan jika hoax terjadi harus ditarik paling lambat 24 jam. Kalau menurut saya, sebaiknya lebih cepat dari itu, karena bisa direkam dan sudah tersebar. Undang-Undang ITE jalan yang baik juga sebagai tindakan terhadap pelaku. Tapi perlu kita sayangkan karena informasi bohong itu sudah melekat,” ujar Emrus.

Selain hukum, lanjut dia, perangkat penting untuk menyaring hoax dan hate speech adalah organisasi yang menaungi para pewarta.

“Karena itu, teman-teman wartawan dan juga media massa  mana pun, perlu membebaskan informasi dari hoax dan hate speech. Indonesia sekarang, dalam keadaan publik yang sakit, mari kita sembuhkan dengan mari kita wacanakan tentang kebenaran informasi yang mengacu pada Pancasila dan UUD 1945,” pungkas Emrus.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*