Breaking News

Hendak Ledakkan Surabaya di Bulan Puasa, Jaringan Teroris ISIS Dibekuk Densus 88

Hendak ledakkan Surabaya dengan bom pada malam 17 Ramadhan, pas bulan puasa, teroris jaringan ISIS yang menargetkan pengeboman kantor Polisi dibekuk Densus 88.

Empat orang anggota teroris yang disebut sebagai kaki tangan Negara Islam Irak dan Syam atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dibekuk anggota Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88) Masbes Polri di Surabaya.

Teroris yang diantaranya merupakan residivis yang pernah dipenjarakan di Lembaga Pemasyarakatan Porong itu berencana melakukan serangkaian serangan bom berkekuatan mahadahsyat di lima instansi Kepolisian Republik Indonesia yang tersebar di Kota Surabaya.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Badrodin Haiti menyampaikan, dari penyelidikan yang dilakukan, para kaki tangan jaringan teroris ISIS itu hendak melakukan serangan pada malam hari tanggal 17 Ramadhan, di bulan puasa ini.

“Sasarannya lima titik yang merupakan instansi Kepolisian Republik Indonesia di Surabaya,” ujar Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti saat di wawancara pada Minggu pagi (12 Juni 2016).

Anggota teroris yang hendak meledakkan bom berdaya ledak tinggi atau high explosives itu diciduk Densus 88 di kawasan Jalan Lebak Timur, Gang 3 D, Surabaya pada Kamis (9 Juni 2016). Selain itu, dua lokasi lainnya juga disisir Densus 88, yaitu Jalan Leboh Agung III nomor 88, dan Jalan Kali Anak nomor 55, Surabaya.

Para residivis yang direkrut oleh terpidana terorisme di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Porong itu kini masih dalam pengembangan Densus 88.

“Tadinya, mereka akan bergerak pada tanggal 17 Ramadhan ini,” ujar Kapolri.

Badrodin Haiti menjelaskan, ketiga orang teroris yang menjadi kaki tangan ISIS yang terlebih dahulu ditangkap itu adalah Priyo Hadi Purnomo (PHP), BRN alias ustad Jeffy (JF) alias F, dan Ferry Novendi (FN).

Menurut Kapolri, sebelum penangkapan dilakukan, Polisi sudah sebulan lebih mencium adanya pergerakan teroris itu. Keberadaan mereka memang sudah terdeteksi.

“Kita sudah monitor keberadaan mereka. Sebelum saya berangkat ke Australia (tugas Negara), saya kumpulkan Kadensus dan pasukan, saya sampaikan, bahwa di bulan Ramadhan ini, kita jangan sampai kecolongan. Kalau sudah ada bukti, ya harus segera ditangkap,” papar Badrodin.

PHP adalah warga Surabaya. Berusia 34 tahun. PHP ini pernah dua kali masuk penjara di LP Porong karena kasus penggelapan dan narkoba. Nah, di LP Porong ini dia direkrut oleh terpidana teroris Sibgotulloh dan Muhammad Sholeh.

Sibgotulloh adalah orang yang berkaitan dengan jaringan teroris di Kalimantan, juga dengan Maman Abdurrahman. Sibgotulloh adalah pelaku peledakan bom di Cimanggis. Dia pun terlibat dalam terorisme pada 2011-2012. Sibgotulloh kini ditahan setelah ditangkap di Malaysia ketika ia hendak berangkat ke Suriah.

Nah, PHP sendiri sebelumnya juga sudah pernah dipindahkan ke LP Madiun dan diisolasi, secara terpisah. Rupanya dia telah direkrut di LP Porong,” ujar Badrodin.

BRN alias Ustad Jeffy adalah warga Malang. Berusia 27 tahun. BRN ini adalah pemain lama. Dia adalah penjaga rumah milik Salim Mubarok alias Abu Jandal. Rumah ini kini dikelola Helmi Alamudi. Rumah digunakan untuk menampung istri dan anak kelompok teroris yang pergi ke Suriah.

BRN ini juga merupakan residivis. Dia pernah menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang) oleh Polres Malang atas KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), perampokan dan penganiayaan. Setelah bebas, dia sering berkomunikasi dengan Abu Jandal yang berada di Suriah, lewat media jejaring sosial.

Sedangkan Ferry alias FN adalah warga Surabaya. Ferry ini banyak membuat situs-situs aliran keras dan berisi terorisme.

“Setelah keluar dari penjara, PHP ini banyak berhubungan dengan Bahrun Naim,” ujar Badrodin.

Bahrun Naim adalah pria yang diyakini menjadi otak serangan bom Thamrin, Januari 2016 lalu. Bahrun saat ini berada di Suriah, menjadi salah satu petinggi di ISIS. Mereka berkomunikasi lewat media jejaring sosial FaceBook.

Nah, PHP ini diajari Bahrun Naim cara-cara merakit dan membuat bom. Juga bahan-bahan yang diperlukan membuat bom diajari lewat jejaring sosial itu,” ujarnya.

Dan pada saat penangkapan terhadap mereka, Densus 88 menemukan 3 bom berdaya ledak tinggi atau high explosives, 2 pucuk senjata laras panjang, satu pucuk pistol, dan sejumlah bahan-bahan kimia dan bahan-bahan untuk membuat peledak berdaya ledak tinggi.

Setelah tiga orang itu tertangkap, berikutnya tertangkap lagi satu orang teroris inisial SL alias AB. Dia diduga kuat masih terkait dengan tiga terduga teroris yang diciduk, juga di Surabaya.

Si SL alias AB ini, pada April 2016 lalu, pernah menaruh bom di bawah mobil Polisi di Polsek Genteng. “Namun karena dia lupa menghidupkan sakelar bom-nya ya tidak jadi meledak.”

Dari pengembangan dan penyidikan yang dilakukan Polisi, diketahui peran masing-masing tersangka terorisme itu sesuai dengan bidang tugas yang hendak dilakukannya pengeboman di bulan puasa ini.

SL alias AB adalah pemilik rumah tempat pembuatan bom. Jenis bom yang dirakit di rumahnya adalah bom HMTD dan RDX. SL alias AB ini juga ikut membantu dalam pembuatan bahan bom, serta mengetahui rencana aksi bom yang sedang dipersiapkan.

Tersangka PHP memiliki peran sebagai perekrut dua tersangka lainnya. PHP juga berperan sebagai pembuat bom, juga melakukan pembelian bahan-bahan bom. “Dia juga berperan sebagai eksekutor,” ujar Kapolri.

Kemudian, tersangka FR alias Ibnu berperan sebagai pembeli bahan bom, pembuat bom, juga sebagai eksekutor.

“Dia ini juga yang berperan sebagai penenti hari H tanggal 17 Ramadhan sebagai tanggal beraksi melakukan pengeboman,” ungkap Badrodin.

Selanjutnya, tersangka FN berperan sebagai pembeli bahan elektronik, rumahnya dijadikan tempat pembuatan RDX dan rompi body past. FN juga yang membuat rangkaian elektronik atau swiching bom itu.

“FN juga berperan sebagai eksekutor. Para tersangka tersebut adalah pendukung ISIS yang akan melaksanakan amaliah berdasarkan perintah dari daulah di Suriah,” ujar Badrodin.

Ada pun jenis bom yang tadinya akan digunakan untuk meledakkan Surabaya pada malam 17 Ramadhan itu adalah satu buah bom jenis timer berbahan black powder, casing panci, satu buah bom pipa jenis sensor cahaya menggunakan pipa 2 inci berbahan HMTD.

“Dengan target mereka adalah kantor polisi, pos polisi yang ada di Surabaya. Ditemukan foto dan hasil survei terhadap 4 kantor yang dilakukan para teroris ini,” ungkap Badrodin.

Bahkan, dari penelusuran yang dilakukan polisi, para jaringan teroris ISIS itu berencana melakukan peledakan bom yang mahadahsyat seperti bom Thamrin dan Bom Bali.

“Itu rencana yang disampaikan atasan-atasan mereka yang di Suriah itu ke mereka,” tutur Badrodin.

Menurut Kapolri, para jaringan teroris ISIS ini menjadikan institusi Kepolisian Republik Indonesia sebagai target pengeboman dikarenakan aksi-aksi terorisme selama ini dibersihkan oleh Polisi.

“Ya mungkin karena polisilah yang intens mencegah dan menangkapi mereka. Itu sudah resiko tugas bagi polisi. Mungkin mereka menganggap Polisi sebagai penghalang aksi-aksi teror yang mereka lakukan,” ujarnya.

Meski pernah dipenjara atas sejumlah kejahatan, menurut Kapolri, beberapa anggota jaringan teroris ISIS itu awalnya berkenalan dengan terpidana terorisme di LP Porong.

“Mereka direkrut di LP. Dan setelah keluar, masih menjalin komunikasi dengan para petinggi atau jaringannya di Suriah. Mereka diajari cara membuat bom, diajari cara mempergunakan senjata, juga dikasih tahu titik-titik serangan mana saja yang akan diserbu,” ungkap Kapolri.

Selain itu, dilanjutkan Badrodin, para teroris itu juga terinspirasi dari seruan yang disampaikan juru bicara ISIS, Syaikh Abu Muhammad Al Adnani yang isinya mengajak jaringan teror di mana pun berada agar melakukan aksi teror di negaranya masing-masing.

Bahkan, para pelaku yang sudah ditangkap itu mengaku sudah siap mati jihad, dan siap berangkat ke Suriah.

“Namun karena situasi di Suriah sedang darurat, mereka ini disuruh menunggu sampai situasi agak kondusif baru bisa berangkat ke Suriah. Sementara menunggu, mereka diperintahkan untuk melakukan serangan-serangan bom di negaranya masing-masing,” ujar Badrodin.

Jadi, lanjut Kapolri, jaringan yang tertangkap di Surabaya itu adalah jaringan lama yang masih bersangkut paut dengan ISIS di Suriah.

Kapolri pun memastikan, penyidik masih terus mendalami dan mengusut jejaring yang dimiliki para tersangka yang telah ditangkap itu.

“Ya saat ini masih ditahan oleh Densus 88 dan sedang terus kita kembangkan informasi dan jaringannya kemana saja,” ujarnya.

Mengenai Warga Negara Indonesia yang menyeberang atau yang hendak berangkat ke Suriah, menurut Kapolri, aparat Kepolisian terus melakukan pemantauan. Jika diketahui ada WNI yang hendak berangkat ke Suriah untuk maksud bergabung dengan ISIS, maka Kepolisian segera menangkap mereka.

“Kita melakukan pemantauan dan terus melakukan upaya menahan dan menangkap mereka. Kita tidak mau lengah. Saat ini, kondisi di Suriah kan lagi genting. Tidak memungkinkan juga bagi mereka untuk berangkat ke sana. Apalagi beberapa daerah di Suriah sudah kembali direbut dari tangan ISIS,” tutur Kapolri.

Kapolri juga menyayangkan adanya orang-orang Indonesia, terutama anak-anak di bawah umur yang disebut mengikuti pelatihan mempergunakan senjata dan militerisme dengan bergabung ke ISIS di Suriah.

Sejumlah unggahan video di jejaring media sosial, yang menunjukkan adanya anak-anak kecil dari Indonesia yang turut bergabung ke ISIS, menurut Kapolri, merupakan salah satu alat propaganda yang dimainkan ISIS untuk menunjukkan bahwa terjadi regenerasi kekuatan dan pasukan di kubu ISIS.

“Nah, itu juga bagian dari propaganda ISIS. Mungkin ada beberapa keluarga yang sempat menyeberang ke Suriah itu dan membawa anak-anak kecil. Dan anak-anak kecil itu diajari dan menjadi alat propaganda ISIS bahwa mereka terus melakukan rekrutmen dan melatih anak-anak kecil sebagai kekuatan bersenjata ISIS,” papar dia.

Karena itu, Kapolri juga berharap semua elemen masyarakat dan semua lembaga yang ada di Indonesia agar bersama-sama memerangi terorisme dan mencegah Warga Negara Indonesia pergi bergabung sebagai anggota ISIS di Suriah.

“Ini juga harus kita cegah supaya tidak ada lagi anak Indonesia yang pergi ke Suriah dan berlatih menjadi anggota ISIS. Ini tugas kita bersama, bukan hanya tugas Kepolisian, semua pihak diharapkan bersama-sama mencegah terorisme,” pungkas Badrodin Haiti.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*