Breaking News

Hari Lahirnya Kontroversi, Nelayan Kian Terabaikan

Hari Lahirnya Kontroversi, Nelayan Kian Terabaikan.

Polemik yang terjadi mengenai Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada tanggal 6 April setiap tahunnya, menunjukkan bahwa pemerintah mengabaikan Nelayan Indonesia.

Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI) Rusdianto Samawa menyampaikan, pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti yang tidak memberikan kepastian Hari Nelayan Nasional menjadi polemik.

“Jangankan mengurusi kehidupan nelayan Indonesia agar lebih baik, soal peringatan Hari Nelayan Nasional saja tidak jelas dan diabaikan,” tutur Rusdianto Samawa, dalam siaran persnya, Senin (09/04/2018).

Menurut Rusdianto, sejumlah cara dilakukan pemerintah untuk terus memberikan tekanan terhadap mahasiswa dan aktivis yang kritis. Termasuk, soal cuitan menteri KKP yang mengubah Hari Nelayan Indonesia menjadi 21 Mei setiap tahun.

“Warganet dan para pemerhati kelautan dan perikanan dibuat heboh dengan gaya komunikasi menteri KKP di twitter. Pasalnya, ngetwit soal hari nelayan Indonesia tanggal 21 Mei setiap tahun itu mendapat respon negatif dari para pemerhati kelautan dan perikanan,” tutur Rusdianto.

Dijelaskan dia, dari cuitan itu, ada yang berpendapat menteri tidak mengerti sejarah dan ada juga yang pertanyakan perbedaan ucapan selamat antara Seskab RI dengan Menteri KKP.

“Perbedaan itu sangat mencolok, karena dokumen negara di Seskab menjelaskan hari nelayan jatuh pada tanggal 06 April setiap tahun. Sedangkan MKP menyebutkan 21 Mei,” tutur Rusdianto.

Hal itu pun, lanjutnya, diketahui saat Menteri KKP membalas twit akun twitter Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jawa Barat, yang mengucapkan selamat untuk Hari Nelayan Nasional.

Namun demikian, hastag #HariNelayanNasional sudah terlanjur viral. Bahkan masuk dalam urutan ke-9 dalam daftar trending topic nasional, hingga pukul 12.58 WIB, Jumat (06/04/2018).

Tahun lalu, lanjut Rusdianto, pernah sekelompok nelayan melakukan kenduri untuk merespon hari nelayan Indonesia. Namun, sama juga, jawaban balik menteri KKP saat itu menolak hari nelayan pada 06 April.

Perdebatan yang tak kunjung selesai itu, menurut dia, sebenarnya bisa diatasi dengan membangun komunikasi yang baik antara pemerintah dan nelayan.

“Memang harus ada komunikasi yang baik antara pemerintah dengan nelayan, agar dapat membicarakannya hingga tuntas. Baik dari kajian sejarah, bentuk, dan peristiwa masa lampau, yang dapat mendukung terbentuknya Hari Nelayan secara permanen di Indonesia,” tuturnya.

Rusdianto melanjutkan, kontroversi ini akan terus berlanjut kalau komunikasi tidak terbangun secara baik dan benar. Pertama, pemerintah saja belum clear soal hari nelayan.

“Faktanya, antara Seskab dan KKP RI saja tak tentu, Peraturan Presiden atau Keputusan Presiden pun malah tidak ada mengenai hari nelayan,” ujarnya.

Kedua, Presiden mewakili pemerintah harus secepatnya mengeluarkan keputusan presiden untuk menentukan hari nelayan Indonesia (nusantara). Tujuannya agar tercipta kondusifitas dan kesamaan pikir antara pemerintah dengan nelayan.

“Sehingga tidak ada lagi yang melaksanakan pada 06 April atau 21 Mei setiap tahunnya. Mestinya satu saja,” ujar Rusdianto.

Rusdianto menegaskan, sikap menteri KKP melalui cuitan di twitter itu membuat wajah nelayan semakin suram dan tak bersemangat lagi. Karena, ketika nelayan berkeyakinan secara prinsip pada 06 April dan ditolak oleh menteri KKP, maka pertanda nelayan sangat dilemahkan.

“Seharusnya kewajiban pemerintah menyelesaikan secara internal terlebih dahulu polemik hari nelayan Indonesia,” katanya.

Apalagi, lanjut dia, sudah sempat beragam pujian dan ucapan selamat yang diutarakan sejumlah pihak, baik perorangan maupun lembaga, dengan merujuk data dari Setkab RI.

Di hampir semua cuitan tersebut berharap agar peringatan Hari Nelayan Nasional ini tidak hanya menjadi momentum bagi kebangkitan laut Indonesia saja.

“Namun sekaligus mengingatkan kembali akan kekayaan kandungan sumber daya lautan yang harus dikelola secara baik, demi kesejahteraan bersama, terutama para nelayan,” pungkas Rusdianto.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*