Breaking News

Harga Jagung Tidak Manusiawi, Petani Menjerit

Harga Jagung Tidak Manusiawi, Petani Menjerit.,

Harga baso  atau jagung tidak berpihak kepada perbaikan kehidupan petani. Seperti yang terjadi di Sumbawa, harga yang sangat mencekik itu sangat menyusahkan petani jagung.

Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI) Rusdianto Samawa menyampaikan, dari perjalanannya bertemu dengan para petani jagung di Sumbawa, dia mendapati harga jagung yang tidak merata.

Dia menyampaikan, dari hasil wawacara dengan para petani, mereka sangat menyesalkan adanya ketidakstabilan harga jagung.

“Di Kecamatan Empang harganya Rp. 2400 beli di tempat. Kalau diantar ke tengkulak Rp 2500. Lalu di Kecamatan lainnya, di Tarano yang bersebelahan dengan Kecamatan Empang, harga jagung Rp 2900 ambil di tempat atau di sawah. Kalau diantar ke tengkulak harganya jadi Rp 3100 hingga Rp3200,” ungkap Rusdianto Samawa, dalam rilisnya, Jumat (06/07).

Dia menuturkan, perbedaan harga itu diketahuinya saat melakukan blusukan ke Karongkeng. Karongkeng adalah sebuah desa kecil yang pemilihnya hanya 300 kepala keluarga.

“Tetapi, desa ini sangat terkenal petani jagungnya karena lahan mereka sangat luas sekali,” ujar Rusdianto.

Kemudian, Rusdianto melanjutkan ke Desa Toloi. Di tempat ini, harga jagung tidak seperti di Empang dan Tarano. Padahal, Desa Toloi masih satu Kecamatan dengan Tarano.

Dikatakan Rusdianto, harga jagung di Toloi sudah mencapai Rp 3500-3600 kalau jual di tempat. Dan, kalau diantar ke tengkulak wilayah Dompu, Bima ataupun Sumbawa, maka kisaran harga menjadi Rp 4100-4200.

“Kok bisa berbeda, padahal satu Kecamatan dan satu Kabupaten? Menurut saya, Pemerintah tidak hadir dalam mengontrol harga, petani dibiarkan sendirian,” ujarnya.

Pada tanggal 31 Juni 2018, Rusdianto bepergian ke Dusun Aiboro, Desa Labuhan Jontal, Kecamatan Plampang, sambil lewat menuju Sumbawa. Di Aiboro, jagung harganya jeblok, karena alasan permainan tengkulak. Desa itu dekat akses jalan raya utama Sumbawa.

“Harga jagung di Aiboro sangat jeblok yakni Rp 2300-2200 per kilo kalau beli di tempat. Kalau diantar sendiri oleh petani ke toko tengkulak menjadi Rp 2400 per kilo,” ujarnya.

Di Aiboro, lanjutnya, dia bertemu dengan teman satu sekolahnya sewaktu di Sumbawa. Temannya menjadi petani jagung tulen. “Ketika saya datang pas saat panen. Jagungnya berhasil sekitar 22 ton. Tetapi, harganya jeblok. Kasihan sekali dia,” ujar Rusdianto.

Hal yang sama terjadi di berbagai wilayah lainnya yang didatanginya di Sumbawa. “Semua daerah yang saya datangi, kondisi petani selalu memprihatinkan. Latar belakang petani, ada yang sarjana, tamat SMA, dan sama sekali tak pernah sekolah,” katanya.

Rusdianto menuturkn, petani di Seluruh Sumbawa, mekanisme mereka berusaha menanam hingga memanen jagung dengan cara; Pinjam uang Bank. Petani meminjam uang bank demi bisa berusaha, seperti meminjam ke BNI, BRI, BSK, dan LKP.

“Peminjaman itu dilakukan petani karena menanam jagung butuh operasional, jumlah pinjaman berkisar 10-60 juta,” ujarnya.

Rincian pemakaian pinjaman itu dimulai dari sewa orang untuk menanam, biaya bajak sawah/ladang, logistik orang menanam (makan dalam), pembelian pupuk sebanyak 2 kali sesuai luas lahan jagung, penyediaan obat penumbuh dan pengusian jagung, penyewaan tong semprot, biaya penjagaan malam hari, biaya mengairi air dan biaya lain yang tidak terduga. Kira-kira habis sekitar 10-60 juta rupiah, sesuai lahan petani yang mereka kelola.

Lalu, lanjutnya, petani membayar pinjaman itu dengan agunan sertifikat tanah dan pengalaman pernah meminjam. Cara petani membayarnya setelah dipanen dan hitung hasil.

“Di sinilah kelirunya pemerintah tidak ada kontrol terhadap Bank-Bank yang ada,” katanya.

Dia mengatakan, sejak mulai masa tanam hingga panen, harusnya pemerintah daerah berperan aktif untuk mengontrol harga obat-obatan pertanian, pupuk, dan biaya lainnya, terutama harga.

Dengan tidak adanya kontrol harga lokal itu, lanjutnya, maka tengkulak semaunya membeli jagung kepada petani. Mereka menentukan harga semaunya sendiri.

“Coba kalau pemerintah daerah Sumbawa membuat regulasi dan mekanisme petani, mulai dari tanam hingga panen bahkan sampai distribusi hasil panen jagung kemana saja,” tuturnya.

Dijelaskan Rusdianto, di tengah opini berhasilnya impor jagung oleh pemerintah hingga sebanyak 300 ribu ton, di saat itu pula harga jagung petani anjlok.

“Tidak ada proteksi pemerintah untuk menjaga hasil panen jagung petani. Harga sangat rendah,” katanya.

Oleh karena itu, Rusdianto mendorong pemerintah untuk membuat Peraturan Daerah tentang harga local, khusus jagung dan harga-harga hasil panen petani.

“Jangan lagi dibiarkan petani sendiri menghadapi tengkulak yang beraksi menghisap petani,” ujarnya.

Pemerintah hendaknya mampu sebagai penyedia rasa nyaman bagi bertani. Apalagi, kata dia, anak-anaknya sekolah, kuliah, menikah dini tanpa pekerjaan, pengangguran semakin meningkat dan kriminal semakin banyak.

“Ayo mendukung pemerintah memperhatikan petani jagung, buat perda Jagung dan harga di dalamnya agar tengkulak terbatas dan tidak langsung pada petani membelinya. Jangan biarkan tengkulak menghisap keringat dan darah bertani dari petani jagung Sumbawa,” pungkas Rusdianto.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*