Breaking News

Harga Daging Mahal, Kementan Harus Rangkul Peternak Sapi Lokal

Harga daging sapi mahal.

Kementerian Pertanian (Kementan) diminta tanggap terhadap permasalahan peternak sapi. Pasalnya, selama ini perlindungan dan perhatian terhadap mereka kurang maksimal sehingga harga daging sapi masih tetap tinggi hingga saat ini.

 

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengeluhkan masih tingginya harga daging sapi dipasaran. Namun anehnya kenaikan tersebut tidak dinikmati sepenuhnya oleh petani rakyat. “Kementan harus merangkul peternak sapi lokal untuk memutus mata rantai perdagangan yang panjang,” ujar Henry di Jakarta, Kamis (01/12/2016).

 

Hal itu, kata Henry diperparah dengan tidak adanya instrument pemerintah yang berupaya menstabilkan harga daging sapi sehingga terkesan tetap dibiarkan tinggi di pasaran.

 

Bila pun ada, kata dia, pemerintah memberikan solusi yang bersifat sementara atau ad hoc sehingga tidak mampu memutus mata rantai tengkulak harga pangan. Dia mencontohkan, harga cabai yang dipatok Rp 15 ribu/kg, melonjak hingga Rp 80 ribu/KG. “Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

 

Demi melawan para tengkulak, kata Henry seluruh peternak daging mulai sapi, ayam, kerbau akan melakukan kongres dam menentukan kebijakan harga yang selama ini bisa dinikmati petani. Sebab, kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementan tidak berpihak kepada petani rakyat.

 

Tidak hanya itu, Henry mengatakan, seluruh petani yang tergabung dalam Holtikultura akan menggelar unjuk rasa besar-besaran menuntut Kementan melakukan perbaikan kebijakan pangan yang terus melambung tinggi akhir-akhir ini. “Demo akan dilakukan 8 Desember di Kementan dan juga Istana Negara,” kata dia.

 

Aksi tersebut terjadi, kata Henry karena kegelisahan petani kentang yang harganya jatuh karena pemerintah melakukan impor dari China. “Pemerintah tidak mudah impor untuk menyelesaikan mahalnya harga pangan,” kritiknya.

 

Ke depan, Henry menyarankan kepada Kementan untuk patuh kepada nawacita yang selama ini digaungkan yaitu soal kedaulatan pangan.

 

Kedaulatan pangan bisa terjadi, bila petani rakyat dikembangkan sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan nasional. Sementara, impor dibatasi atau dihentikan. “Kalau memang impor dilakukan harus jelas instumennya,” kata dia.

 

Soal daging sapi yang mahal, dia meminta kepada pemerintah untuk tidak perlu melakukan impor, tapi biarkan saja agar tetap mahal, karena masyarakat yang keberatan dengan harga daging bisa beralih ke daging lain seperti ayam, bebek atau kerbau.

 

Langkah ini, kata dia juga pernah dilakukan Pemerintah China yang mendorong wargahanya untuk mengkonsumsi entok dana ayam. “Apalagi biasa perawatan sapi cukup sulit karena memerlukan lahan luas dan perawatan yang lama,” tutupnya.(JR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*