Breaking News

Harga Beras Tinggi, Buruh Kian Merana

Harga Beras Tinggi, Buruh Kian Merana.

Kehidupan kaum buruh kian merana. Di tengah menghadapi kondisi turunnya daya beli, gelombang PHK dan kenaikan tarif listrik, kini kenaikan harga beras menjadi beban terbaru. Pemerintah dinilai gagal dalam mengelola perekonomian nasional.

 

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengatakan pada awal 2018 ini kehidupan masyarakat semakin sulit akibat naiknya harga beras sebagai konsumsi utama rakyat Indonesia. “Kenaikan harga beras ini merupakan kado pahit dari Pemerintahan Jokokwi – JK di awal tahun 2018 untuk buruh dan rakyat kecil,” ujarnya di Jakarta, Senin (15/01/2018).

 

Menurut Said, kebutuhan pokok masyarakat yang mengalami kenaikan signifikan adalah tarif listik yang juga menyebabkan naiknya biaya kontrakan/kost. Situasi kini diperparah dengan naiknya harga beras.

 

“Kenaikan harga-harga kebutuhan tersebut mengakibatkan daya beli buruh turun berkisar antara 20 sampai 25 persen,” ungkapnya.

 

Padahal kenaikan upah di 2018 ini hanya sebesar 8,71 persen. Dengan demikian buruh dalam kehidupan sehari-seharinya pada tahun 2018 akan tekor sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan. “Buruh terpaksa berhutang karena upah yang mereka terima tidak mencukupi untuk membiayai kebutuhan hidup, itu artinya daya beli buruh makin anjlok,” ujar Iqbal.

 

KSPI mendesak pemerintah untuk mengendalikan harga beras dengan cara menurunkan harga beras menjadi lebih murah. Buruh juga dengan tegas menolak impor beras, sebab hal ini akan memukul daya beli petani. Apalagi, diperkirakan bulan Februari akan ada panen besar. Dengan adanya impor beras, maka harga jual beras dari petani akan terpukul. Harga beras petani jatuh. Sehingga pendapatan petani semakin turun, yang membuat daya beli petani anjlok.

 

“Buruh dan petani adalah kelompok masyarakat yang paling rentan terpukul daya belinya dengan kenaikan harga beras dan listrik dan kenaikan harga sewa kontrakan,” katanya.

 

Guna mendesak pemerintah agar lebih peduli pada rakyat kecil, KSPI juga sedang mempersiapkan aksi besar-besaran di 50 kota yang melibatkan puluhan ribu buruh bila sampai dengan akhir Januari 2018 pemerintah tidak bisa menurunkan harga beras.

 

“Aksi tersebut direncanakan akan digelar serentak pada tanggal 6 Februari dengan tiga tuntutan rakyat atau Tritura, yaitu: turunkan harga beras-stop impor beras, naikkan daya beli-tolak upah murah, dan jangan pilih pemimpin daerah yang busuk,” tandas Said.

 

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sampai dengan minggu ke-II Januari ini, kenaikan harga beras di pasar mencapai 3 persen. Peningkatan tersebut dianggap sudah dalam kategori mengkhawatirkan atau mencemaskan.

 

Kepala BPS, Suhariyanto, mengingatkan pemerintah agar mengendalikan inflasi pada 2018 yang ditargetkan 3,5 persen. Target tersebut dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. “Pemerintah perlu mengendalikan inflasi di 2018, karena volatile food (gejolak pangan), terutama harga beras pergerakannya sudah mencemaskan,” katanya. (JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*