Breaking News

Hama Beracun Masuk Besar-Besaran Dari Cina, Pemerintah Diminta Stop Impor Benih

Hama Beracun Masuk Besar-Besaran Dari Cina, Pemerintah Diminta Stop Impor Benih.

Ramainya pemberitaan penemuan penyakit tanaman cabai dari Cina yang terbawa benih dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan fakta bahwa Indonesia rentan terhadap masuknya penyakit baru lewat impor benih. Tantangan ini diprediksi semakin berat seiring dengan terus belangsungnya impor benih baik melalui program pemerintah maupun perdagangan umum.

 

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, menerangkan maraknya penyakit baru yang masuk lewat benih harusnya menyadarkan semua pihak untuk segera mewujudkan kedaulatan petani atas benih. Dengan mengutamakan benih dari petani maka Indonesia bisa terhindar dari resiko ledakan(outbreak) hama penyakit.

 

“Selain itu, dengan berdaulat benih maka kita mendorong tumbuhnya ekonomi di tingkat petani,” katanya dalam keterangan persnya yang diterima redaksi.

 

Dia menuturkan, maraknya impor benih, terutama padi dari 2006 hingga hari ini terutama terkait program peningkatan produksi pangan nasional dapat menjadi ancaman serius bagi pencapaian kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Apalagi dengan masuknya penyakit baru yang belum tentu disiapkan penanganannya.

 

“Dalam catatan KRKP, impor benih padi dilakukan oleh perusahaan swasta, BUMN dan sedikit oleh lembaga penelitian,” sebutnya. Berdasarkan negara asal, Cina merupakan negara terbesar yang menjadi sumber impor benih. Disusul India sebagai eksportir terbesar kedua. Sementara Filipina, Amerika Serikat, Australia dan Pakistan dalam jumlah yang sedikit.

Kepala Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB), Widodo, menyebutkankeberadaan penyakit baru yang terbawa oleh benih impor bukanlah hal baru. Pihaknya mencatat, dari 1994 sampai dengan saat ini telah teridentifikasi sekurangnya 12 jenis organisme pengganggu tanaman baru atau dikenal sebagai organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) golongan A1, yaitu OPT yang belum terdapat di dalam negeri.

 

“Munculnya penyakit penyakit baru yang ditemukan tim klinik tanaman selama ini karena terbawa oleh benih. Benih-benih ini merupakan benih impor,” ujarnya.

 

Menurut Widodo, benih yang membawa bibit penyakit ketika ditanam akan menular ke tanaman yang lain melalui aliran air, percikan air, angin, serangga, serangga, vektor, alat-alat pertanian maupun perdagangan produk tersebut. Hal ini sangat berbahaya karena seringkali ketika muncul penyakit baru pemerintah tidak memiliki strategi penanganan yang tepat dan cepat.

 

Sementara itu, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB, Suryo Wiyono, mengatakan bahwa masuknya penyakit lewat benih sangat merugikan. Tidak hanya menurunkan produksi namun merugikan petani karena bisa meningkatkan biaya produksi, dan menurunkan pendapatan petani.

 

Dia mengingatkan, sekali hama atau penyakit masuk ke Indonesia maka akan sangat sulit sekali menghilangkannya.”Kita perlu belajar dari kasus bawang merah. Tahun 1997 terjadi impor bawang merah konsumsi yang kemudian disalahgunakan menjadi benih,” terangnya.

 

Bawang impor tersebut ternyata mengandung penyakit Fusarium oxyporum fsp. cepae panyakit ini pada waktu itu golongan A1. Menurut Suryo, sampai saat ini penyakit tersebut terus menyerang dan menjadi musuh utama petani bawang.

 

Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara (GPN), Hermanu Triwidodo, menekankan penting bagi pemerintah untuk memperkuat benih lokal dan kelembagaan perbenihan petani. GPN sendiri telah berkirim surat Presiden Joko Widodo untuk ikut serta menjaga keamanan pertanian Indonesia dari ancaman hama dan penyakit yang berasal dari luar negeri dengan menghentikan impor benih padi.

 

Menurutnya, kekayaan dan keanekaragaman hayati padi serta rakitan varietas unggul oleh petani dan peneliti Indonesia tidak kalah produksinya dibanding yang berasal dari manca negara. “Kita punya banyak jenis benih lokalyang sudah teruji dan terbukti tahan bahkan bebas penyakit, produksinya juga cukup baik. Jadi tak ada alasan untuk mengimpor benih dari luar apalagi resiko yang menyertainya cukup besar,” katanya.

 

Hermanu menyebutkan, para petani lokal perlu difasilitasi, diajak dan diyakinkan bahwa tak selamanya benih impor lebih baik dari benih lokal. Banyaknya fakta lapangan yang menunjukan makin tingginya benih impor makin maraknya penyakit tanaman pangan baru harusnya membuat pemerintah berteguh hati untuk menguatkan keberadaan benih lokal.

Selama ini data-data yang dihimpun dilapangan menunjukkan produktivitas padi hibrida impor tidak lebih tinggi dibandingkan varietas nasional semisal Mekongga, Ciherang.

 

“Bahkan lebih rentan terhadap serangan hama penyakit seperti wereng cokelat, blas dan kresek,” sebutnya.

 

Oleh karenanya, selain memperkuat karantina, pemerintah harus menghentikan kebijakan impor benih atas nama produktivitas tinggi karena sudah terbukti menambah permasalahan penyakit tanaman di Indonesia.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*