Breaking News

Habiskan Uang Untuk Infrastruktur, Hati-Hati Krisis Fundamental Mengancam Indonesia

Habiskan Uang Untuk Infrastruktur, Hati-Hati Krisis Fundamental Mengancam Indonesia.

Pemerintahan Jokowi diingatkan agar berhati-hati dengan krisis fundamental yang sedang mengancam Indonesia.

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengungkapkan, pendanaan infrastruktur dengan menggunakan utang sampah dan uang sampah dalam jumlah besar produk pasar keuangan global, akan membawa akibat pada peningkatan level krisis keuangan global, yang saat ini sedang berhadapan dengan tiga masalah fundamental, yang tidak mungkin terselesaikan tanpa ada sebuah guncangan perang besar.

Daeng menyebutkan, krisis fundamental itu adalah, pertama, krisis over-production. Krisis jenis ini terjadi karena adanya kelebihan kapasitas produksi global yang tidak akan mampu diserap oleh pasar.

“Kondisi ini akibat efesiensi luar biasa dari industri, penggunaan teknologi, rekayasa genetika dan penemuan-penemuan baru yang mampu memompa produksi, namun menekan penggunaan tenaga kerja dan minimalisasi upah,” ujar Salamuddin Daeng, Jumat (25/08/2017).

Dia mengatakan, hampir seluruh sektor mengalami over-produksi, seperti pangan, energi, besi baja, elektronik, automotif, tekstil,  dan lain sebagainya.

Produk-produk tersebut melimpah, namun pada sisi lain pasar tidak dapat menyerapnya. Sementara, upaya peningkatan kapasitas pasar dengan mendorong perdagangan bebas, pembukaan pasar, regionalisme, tidak mendapat hasil signifikan.

Dalam kasus Indonesia, lanjut dia, over-produksi global telah memukul industri nasional akibat liberalsiasi perdagangan, penghapusan seluruh hambatan atau barrier  seperti tarif dan proteksi.

“Dalam kasus Indonesia, memang ada fenomena aneh, yakni harga barang kebutuhan hidup pada tingkat global menurun, namun di Indonesia justru meningkat. Hal ini menunjukkan level pengurasan ekonomi dan keuangan rakyat di Indonesia yang sangat , jauh lebih dalam dibandingkan negara atau kawasan lain di dunia,” ujarnya.

Krisis over-produksi mengakibatkan pertarungan yang semakin keras antara perusahaan raksasa dalam merebut pasar. Demikian juga pertarungan keras negara-negara industri untuk merebut wilayah dalam menyediakan pasar bagi perusahaan-perusahaan mereka. Kata dia, over-produksi juga mendorong negara-negara industri kembali pada protectionism seperti yang dijalankan Cina melalui subsidi mata uang dan politik perdagangan lainnya, Ingris dengan Brexit dan Amerika Serikat dengan buy american product dan Eropa dengan buy european act.

Krisis fundamental kedua adalah krisis under-consumption yakni daya beli masyarakat yang jatuh ke tempat paling rendah.

Pada tingkat global terjadi kemiskinan dan ketimpangan yang luar biasa di berbagai negara. Lebih dari 1,5 miliar penduduk bumi jatuh dalam kemiskinan. Satu miliar diantaranya benar-benar kelaparan.

“Di Indonesia, kekayaan 4 orang setara dengan kekayaan 100 juta penduduk,” ujar Daeng.

Logika jatuhnya daya beli, lanjut dia, adalah bukti under-consumption dalam ekonomi Indonesia. Keadaan ini akan berlangsung lama dan dalam tempo yang panjang. Sementara, pemerintah tidak memiki sumber daya yang memadai untuk memompa daya beli.

“Akibatnya industri tutup, banyak perusahaan gulung tikar. Kondisi ini akan semakin memperburuk kondisi daya beli sendiri,” ujarnya.

Under-consumption disebabkan oleh pengangguran yang semakin meluas di seluruh negara. Sehingga isue create job menjadi isu utama yang diusung oleh para politisi di seluruh dunia dalam memenangkan pemilihan, baik pemilihan presiden maupun angggota parlemen.

“Namun sejauh ini belum menunjukkan hasil. Pengangguran malah semakin bertambah,” ujarnya.

Sementara, sumber penghidupan petani dari agricultural telah direbut oleh perusaahaan pangan besar. Pangan global yang melimpah hanya dipasok oleh tidak lebih dari 10 perusahaan pangan raksasa global dari negara-negara industri maju. Akibatnya, petani kehilangan lapangan pekerjaan dan pasar produk petani direbut oleh perusahaan raksasa.

Akhirnya, petani dan buruh, serta kaum miskin kehilangan kemampuan dalam membeli barang dan jasa yang mereka perlukan. Padahal, barang dan jasa tersebut melimpah di pasar, mengisi ritel-ritel dan outlet-outlet dengan jumlah pembeli yang sangat minim.

Krisis fundamental ketiga adalah krisis over-accumulation, yakni melimpahnya uang sampah dan utang sampah hasil produk pasar keuangan dan perdagangan utang.

Menurut Salamuddin Daeng, krisis ini mengakibatkan  ekonomi tidak dapat bergerak dalam sektor riil. Ibaratnya, mau menghasilkan barang tapi barang sudah melimpah.

“Mau mendorong orang berbelanja tapi daya beli sudah tidak ada. Mau menurunkan harga tapi tidak mungkin di bawah ongkos produksi. Mau menggratiskan tapi tidak mungkin, karena itu bisa membunuh kapitalisme. Jadi, tidak ada jalan keluarnya. Ekonomi masuk dalam perangkap lubang hitam,” tutur dia.

Akibatnya, ekonomi bergerak di sektor keuangan seperti spekulasi mata uang, bursa saham atau pasar modal, perdagagan utang, dan penciptaan berbagai produk derivatif sektor keuangan.

Ekonomi bergerak dengan logika money to money, uang langsung memproduksi uang. Uang tidak lagi butuh landasan produksi barang dan jasa.

Sementara, di sisi lain Dolar Amerika Serikat semakin independen, baik terhadap emas, minyak maupun terhadap neraca perdangan Amerika Serikat.

“Negara ini defisit perdagangan dan neraca primer, tapi pencetakan uang dolar semakin gila-gilaan. Tidak hanya Amerika Serikat, negara-negara lain mencetak utang bahkan hingga melebihi PDB mereka. Membiayai negara dan pemerintahan dengan utang. Utang dibuat tanpa ada lagi landasan atau pijakan ekonominya,” ujar Daeng.

Demikian juga dengan perusahaan, mereka sibuk memproduksi utang. Sehat tidak-nya sebuah negara dan perusahaan ditentukan oleh rating atau peringkat utang mereka.

“Negara-negara yang kita kenal kaya seperti Amerika Serikat, Jepang, Cina dan negara-negara Eropa adalah negara penghutang besar. Utang negara-negara tersebut sudah tidak dapat diketegorikan masuk akal,” ujar Daeng.

Utang tersebut tidak mungkin terbayarkan. Demikian juga dengan perbankkan dan perusahaan di seluruh negara kaya, hidup di atas utang menggunung.

Maka, lanjut Daeng, terjadilah buble finance. Utang global sudah lebih dari 150% PDB global. Sedangkan produk pasar keuangan nilainya 10 kali lebih besar dibandingkan PDB dunia.

PDB dunia berada pada angka 60 triliun dolar amerika, tapi produk keuangan membengkak mencapai 600 triliun dolar amerika. Jika utang runtuh, maka pasar keuangan runtuh.

“Sehingga untuk bertahan dari keruntuhan maka harus diciptakan gelembung utang dan gelembung keuangan yang baru,” katanya.

Menurut dia, itulah mengapa pembangunan infrastruktur skala besar digalakkan. “Pembangunan infrastruktur skala gila semacam itu merupakan strategi akumulasi lebih lanjut untuk memproduksi uang sampah, memproduksi utang sampah, sebagai sumber uang untuk menopang peradaban sekarang yang tengah membusuk,” ujar Daeng.

Cepat atau lambat, lanjutnya, gelembung gas keuangan ini akan pecah. Semakin besar gelembung keuangan, maka akan semakin keras ledakannya, membakar dan melelehkan benda-benda di sekelilingnya.

“Semakin besar infrastruktur yang dibangun, semakin keras dentuman keruntuhan bangunan itu dan  semakin luas pula bagunan-bangunan lain yang ikut runtuh,” pungkas Salamuddin Daeng.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*