Breaking News

GMKI: Aksi Teror Bom di Gereja Adalah Provokasi Untuk Merongrong Indonesia

Gereja yang dibom teroris di Samarinda.

Masyarakat diingatkan agar tidak terprovokasi berlebihan dengan adanya aksi teror bom kepada gereja.

 

Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) menyampaikan, aksi terorisme yang terjadi di Gereja Oikoumene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur merupakan provokasi yang tidak boleh dianggap sepele oleh setiap elemen bangsa.

 

Pasalnya, aksi terorisme ini, patut diduga kuat sengaja menyasar anak-anak yang sedang bermain di luar gedung ketika orang tua mereka sedang merlakukan peribadatan.

 

Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Sahat Martin Philip Sinurat menyampaikan, empat orang anak menjadi korban dalam aksi terorisme provokatif kali ini.

 

“Empat orang anak yang menjadi korban tersebut diketahui sedang bermain menunggu selesainya peribadatan orang tua mereka. Diduga sekitar ratusan jemaat sedang beribadah pada saat terjadinya peledekan. Kebanyakan dari jemaat yang melakukan peribadatan adalah orang tua yang memang sengaja membawa anak-anak mereka juga untuk beribadah,” ujar Sahat Martin dalam siaran pers yang diterima redaksi, Senin (14/11/2016).

 

Upaya deradikalisme yang digaungkan pemerintah untuk mereduksi aksi terorisme, lanjut Sahat Martin, seharusnya berbuah baik. “Namun dengan adanya insiden Samarinda, membuka mata kita, kelompok teroris yang menginginkan Negara yang ber-ideologi Pancasila ini runtuh, masih subur dan bebas bergerak,” katanya.

 

Atas peristiwa ini, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) sangat menyayangkan dan mengecam tindakan pelemparan bom yang dilakukan oleh residivis Johanda Alias Jo Bin Muhammad Aceng Kurnia di Gereja Oikoumene  Kota  Samarinda, Kalimantan Timur pada hari Minggu 13 November 2016.

 

“Mengutuk keras siapaun yang mendalangi aksi terorisme yang menyasar anak-anak sebagai korban, terlepas apa pun yang mendasari tindakan tersebut,” ujarnya.

 

Sahat mengingatkan, aksi pelemparan bom tersebut menjadi tanggung jawab dari Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto dan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham), Yasona Laoly karena Kementerian tesebut memiliki kewajiban melakukan pengawasan kepada setiap napi dan residivis teroris karena dimungkinkan untuk mengulangi tindakan kejahatan serupa yang dapat menganggu kepentingan nasional.

 

“Kepala Badan Nasional Penanggulan Terorisme,  Komjen Pol Suhardi Alius harus bertanggung jawab penuh karena telah membiarkan anak-anak yang tak berdosa telah menjadi korban terorisme di Samarinda,” ujarnya.

 

Selain itu, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur,  Irjen Pol Safaruddin dianggap gagal dalam mengantisipasi aksi terorisme yang menyasar rumah ibadah yang menjadikan anak-anak sebagai korban.

 

Meski demikian, lanjut dia, pihaknya meminta dengan rendah hati setiap tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk bahu mebahu dalam menjaga ke Bhinekaan di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.

 

“Dan menunjukkan bahwa ideologi Pancasila tidak akan kalah dengan sekelompok orang yang ingin mengubah Pancasila,” ujarnya.

 

Sahat juga menginstruksikan seluruh Badan Pengurus Cabang GMKI se-Tanah Air, para kader dan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia untuk melakukan konsolidasi dengan setiap organisasi yang berbasis kepemudaan dan mahasiswa agar dapat menjaga keutuhan Bangsa.

 

“GMKI  meminta agar seluruh element masyarakat Indonesia tidak terprovokasi atas peristiwa terorisme yang memprovokasi dengan cara  menyerang rumah ibadah dan menyasar anak-anak,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*