Breaking News

Gereja Tetap Ditutup, Umat Kristiani Protes; Soal Penindakan Kaum Intoleran, Jokowi Tidak Tegas

Gereja Tetap Ditutup, Umat Kristiani Protes; Soal Penindakan Kaum Intoleran, Jokowi Tidak Tegas.

Presiden Joko Widodo dianggap tidak bertindak tegas terhadap kaum intoleran yang mengusik kelompok minoritas di Indonesia.

Buktinya, Jokowi tidak pernah menindak sejumlah kelompok yang melakukan intimidasi dan pelarangan terhadap penganut dan pemeluk agama Kristen di sejumlah tempat di Tanah Air.

Tim Anggota Hukum Gereja HKBP Filadelfia Judianto Simanjuntak menyatakan, dalam pembukaan Kongres Gerakan  Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Batutulis, Jumat 14 September 2018, Presiden Jokowi bicara keberagaman dan menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia.

Namun, lanjut Judianto, dalam esksekusi janji dan kebijakan Jokowi tidak sesuai dengan yang diucapkan. “Presiden Jokowi menyinggung keberagaman baik menyangkut Suku, Agama  bahkan bahasa . Yang jadi  pertanyaan, bagaimana perlindungan kepada monoritas, khususnya terkait hak-haknya sebagai warga negara untuk bebas beragama, beribadah dan berkeyakinan?” ujar  Judianto, Senin (17/09/2018).

Kenyataannya, lanjut pria yang bersama-sama warga Jemaat HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin ratusan kali beribadah di seberang Istana Presiden, Jakarta Pusat itu,  banyak warga negara tidak bebas, tidak merdeka beragama, tidak  merdeka beribadah, dan berkeyakinan.

“Hal inilah yang juga dialami Ahmadyah , Syiah , umat Kristiani, Penghayat Kepercayaan, dan yang lain,” ujar Judianto.

Dia menuturkan, data Almanak HKBP tahun 2018 menyebutkan ada sebanyak 43 gereja HKBP tidak bisa digunakan jemaatnya beribadah karena tekanan dan penolakan  massa intoleran.

“Termasuk HKBP Pondok Kelapa , Jakarta  Timur , HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi (Ciketing ), HKBP Filadelfia, Bekasi . Ironisnya Pemda menuruti kehendak massa intoleran,” ujarnya.

Bahkan, dia menegaskan, sampai saat ini, warga Jemaat HKBP Filadelfia Bekasi dan GKI Yasmin Bogor tidak memperoleh penyelesaian dari Pemerintah Pusat.

“Tidak ada penyelesaian dari Presiden  Jokowi dan Pemda. Padahal nyata-nyata Pemda melakukan pembangkangan hukum,” ujarnya.

Dikatakan Judianto, Bupati Bekasi dan Walikota Bogor menyegel rumah ibadah jemaat HKBP Filadelda dan GKI Yasmin secara tidak sah. “Bukan hanya itu, Bupati Bekasi dan Walikota Bogor tidak melaksanakan putusan pengadilan yang sudah final,” ujarnya.

Diungkapkan Judianto, hingga 2 September 2018, sudah sebanyak 177 kali dilakukan Ibadah HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin di seberang Istana Merdeka , Jakarta.

“Tetapi Presiden Jokowi tidak mendengar suara jemaat HKBP Filadelfia dan  dan GKI Yasmin,” ujarnya.

Seharusnya, Presiden Jokowi melakukan evaluasi dan koreksi atas pembangkangan hukum yang dilakukan Bupati Bekasi  Bekasi dan Wali Kota Bogor.

“Dan seharusnya Presiden memberikan perintah tegas kepada Bupati Bekasi dan Walikota Bogor agar melaksanakan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap  dan final,” tutup Judianto.

Presiden Joko Widodo meresmikan pembukaan kongres XXXVI Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Batutulis.

Jokowi tiba di Bogor Green Forest, Jumat (14/9/2018) pukul 09.00 WIB. Jokowi tampak memakai kemeja batik lengan panjang. Turut mendampingi Jokowi, Menkum HAM Yasonna Laoly dan Menristekdikti M Nasir.

Dalam sambutan, Jokowi mengatakan keberagaman yang ada di Indonesia mulai dari keberagaman agama, suku hingga bahasa. Kata Jokowi, keberagaman itu adalah hal yang perlu disyukuri.

“Penduduk kita 263 juta yang hidup di 17 ribu pulau, 514 kabupaten dan 34 provinsi. Ini negara yang sangat besar, sangat besar sekali kelihatan dari ujung barat, ujung timur, ujung utara dan ujung selatan. Terasa betul betapa negara ini negara besar tapi dianugerahi Tuhan perbedaan yang sangat banyak,” kata Jokowi.

Banyaknya suku yang ada di Indonesia menjadi salah satu perbincangan Jokowi kala kunjungan kenegaraan. Dia mencontohkan saat bertemu Presiden Afganistan beberapa waktu , Ashraf Ghani beberapa waktu lalu. Jokowi menanyakan jumlah suku yang ada di Afganistan.

“Saya dari Afganistan, saya iseng tanya ke Presiden Ghani ada berapa suku di Afganistan, beliau jawab 7. Saya bilang Indonesia punya 714. Bayangkan 714,” ujar Mantan Walikota Solo itu.

Selain soal keberagaman suku, di depan peserta kongres, Jokowi mengingatkan agar anak muda harus mengetahui teknologi karena perubahan yang begitu cepat. Jokowi sempat menyinggung soal kecerdasan buatan (artificial intelligent) hingga 3D Printing.

“Kita harus sadar bahwa sekarang ini terjadi perubahan besar di dunia global, berubah begitu cepat harus ikuti semua apalagi anak muda harus tahu artificial intelligent 3D printing, virtual reality, kalau enggak ditinggal kita. Dunia berubah begitu cepatnya dan Revolusi Industri 4.0 3 kali lebih cepat sehingga ini segera terjadi perubahan besar di dunia ini. Apa yang harus kita siapkan? Pekerjaan besar kita ada di situ. Kita bisa lakukan lompatan kalau bisa rencanakan antisipasi perubahan yang ada,” tutup mantan Gubernur DKI Jakarta ini.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*