Breaking News

Gelar Upacara Kemerdekaan di Seberang Istana, Di Era Jokowi, Umat Kristiani Belum Merdeka

Gelar Upacara Kemerdekaan di Depan Istana, Di Era Jokowi, Umat Kristiani Belum Merdeka.

Masih dalam suasanya peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 tahun, umat Kristiani di Tanah Air menyatakan belum merdeka menganut dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya.

Buktinya, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI Yasmin) dan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP Filadelfia) hingga kini tidak memperoleh kemerdekaannya dalam menjalankan agama dan peribatannya.

Anggota Tim Advokasi Kebebasan Beragama, GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, Anto Judianto Simanjuntak menyampaikan, meski Konstitusi Negara Republik Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945, memberikan jaminan kemerdekaan kepada pemeluk dan penganut agamanya, termasuk bagi umat Kristiani, namun hingga usia Negara Indonesia mecapai 73 tahun dan kini dipimpin Presiden Joko Widodo, kemerdekaan yang dimaksud tidak terwujud.

“Masih ada warga negara yang tidak dapat menikmati  kemerdekaan yang sejati, karena tidak bebas melaksanakan haknya sebagai warga negara yaitu hak atas kebebebasan beragama, beribadah. Hal inilah yang dialami Jemaat GKI Yasmin, Bogor dan HKBP Filadelfia, Tambun, Bekasi. Padahal konstitusi dan Undang-Undang HAM No 39 Tahun 1999 menjamin hak atas kekebasan beragama dan beribadah bagi setiap warga negara,” tutur Judianto Simanjuntak, dalam keterangan persnya, Senin (20/08/2018).

Oleh karena itu, sebagai bentuk kebprihatinan atas kemerdekaan yang tersandera itu, dijelaskan Judianto, jemaat kedua gereja itu pun menggelar Upacara Kemerdekaan 17 Agustus di Depan Istana Negara.

“Doa dan ibadah syukur dan Proklamasi di seberang Istana Merdeka digelar pada Minggu, 19 Agustus 2018 kemarin,” tuturnya.

Dia menjelasakan, aksi ibadah kali ini merupakan rangkaian panjang penuntutan terhadap pemerintah agar diberikan kemerdekaan beribadah. Judianto menyebut, sudah sebanyak 176 kali jemaat kedua gereja itu menggelar ibadah di depan Istana Negara.

“Ini ibadah damai yang ke 176 kali. Ibadah kali ini dipimpin oleh Pendeta Kus Aprianto dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Rewulu, Yogyakarta, dan didampingi beberapa pendeta dari berbagai gereja,” ujarnya.

Ada yang menarik dalam ibadah dan menuntut kemerdekaan beribadah kali ini, ibadah digelar dengan mempertunjukkan musik tradisional Batak Gondang Uning -ningan dari HKBP Pasar Rebo. Selain itu, lanjut Judianto, setiap jemaat yang hadir juga mengenakan pakaian adat daerah masing-masing.

“Usai ibadah, jemaat kedua gereja dan perwakilan korban diskriminasi atas nama agama, mengadakan upacara peringatan proklamasi, menyatakan ulang kecintaan warga negara yang dipinggirkan ini akan Republik Indonesia yang dimerdekakan 73 tahun yang lalu, dan mempertahankannya sebagai rumah bersama bagi semua,” tutur Judianto, seraya menjelaskan yang menjadi Inspektur Upacara kali itu adalah Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*