Breaking News

Gelar Persidangan Fiktif, Keluarga Korban Penganiayaan Berat Laporkan Sipir, Jaksa dan Hakim

Nasib Napi Yang Dianiaya Hingga Buta, Masih Harus Hadapi Persekongkolan Busuk Para Penegak Hukum.

Keluarga korban penganiayaan berat oleh sipir lembaga pemasyarakatan (lapas) melaporkan jaksa dan hakim yang menggelar persidangan fiktif.

Ernita Simanjuntak, ibunda dari Renhad Hutahaean-warga binaan di Lapas Bukit Semut, Sungailiat, Bangka Belitung, merasa diapusi atau dibohongi oleh aparat penegak hukum yakni Jaksa dan Hakim yang menggelar persidangan fiktif di Pengadilan Negeri Sungailiat, Bangka Belitung, Rabu (06/02/2019).

“Kami dibohongi, mereka, sipir yang menganiaya anak saya, bersama Jaksa dan Hakim menggelar persidangan fiktif. Tanpa kami hadiri, mereka bersidang diam-diam. Padahal, kami menunggu sejak pagi hingga sore, di depan ruangan persidangan. Kami akan melaporkan sipir, jaksa dan hakim ke Jakarta. Saya perlu bicara dengan Jaksa Agung, dengan Ketua Mahkamah Agung dan dengan Menteri Hukum dan HAM,” tutur Ernita Simanjuntak lewat sambungan telepon, Rabu (06/02/2019).

Ernita menjelaskan, jadwal persidangan terhadap anaknya Renhad Hutaehan seharusnya memasuki agenda pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sungailiat pada Rabu, 06 Februari 2019.

Minggu lalu, persidangan ditunda lantaran JPU menyatakan belum siap membacakan tuntutannya. Jadwal persidangan dilakukan setiap Rabu, pukul 09.00 WIB pagi.

Dia mengatakan, ada persekongkolan busuk yang dilakukan pejabat Lapas dengan Jaksa dan Hakim yang menyidangkan perkara anaknya.

Renhad Hutahaean adalah warga binaan Lapas Bukit Semut, Sungailiat, Bangka Belitung, yang dikriminalisasi sehingga masuk penjara. Di dalam penjara, Renhad dianiaya oleh sipir dengan penganiayaan berat, hingga menyebabkan kedua bola matanya mengalami kebutaan permanen.

“Sudah diperiksa ke dokter. Dan sudah dinyatakan buta permanen. Itu penganiayaan berat. Maka kami menggugat si penganiaya ke pengadilan, dengan pasal penganiayaan berat,” tutur Ernita.

Sejak masuk ke tahap persidangan, lanjut perempuan yang merupakan Guru SD di Sungailiat itu, dirinya sudah melihat adanya gelagat yang tidak fair dari aparat penegak hukum terhadap kasus yang ditimpakan kepada anaknya.

Setiap kali persidangan, Ernita bersama kuasa hukumnya Bujang Musa selalu hadir dalam persidangan. Setelah menunda persidangan minggu lalu, Majelis Hakim menjadwalkan persidangan pada Rabu (06/02/2019). “Biasanya pagi, sekitar jam Sembilan,” ujar Ernita.

Nah, sejak pagi hari Ernita dan Kuasa Hukumnya sudah tiba di Pengadilan Negeri Sungailiat untuk mengikuti persidangan. Gelagat buruk kian terasa, lanjut dia, tatkala persidangan tak kunjung dimulai. Hingga jam empat sore lebih.

“Dikarenakan menunggu, dan kami tak dipanggil-panggil mulai sidang, kami duduk di depan kaca, di depan ruang persidangan. Hingga pukul empat sore lebih,” ungkap Ernita.

Masih menunggu persidangan, di saat jadwal sidang kasus-kasus lain sudah selesai. Ernita dan kuasa hukumnya berharap aka nada pemanggilan atau informasi penundaan, karena hari sudah sore.

“Ruang sidang yang lain sudah tutup. Sudah selesai mereka semua. Sudah dikunci. Kami kaget, tak tahunya di ruang sidang yang akan kami ikuti, tiba-tiba sudah digelar persidangan dengan pembacaan tuntutan terhadap anak saya. Tidak lama, cuma sebentar. Begitu melihat itu, kami segera berlari ke dalam. Dan mereka sudah membubarkan diri. Saya teriak-teriak, mengapa bersidang diam-diam, eh Jaksa dan Hakim serta sipir si penganiaya anak saya melarikan diri dari ruang sidang,” ungkap Ernita.

Diteriaki oleh Ernita, Jaksa yang bernama Ikwan Ratsudi, yang menggantikan JPU Ari Pratama, hanya menyahut, bahwa sudah selesai dibacakan tuntutannya. “Silakan ikuti saja persidangan selanjutnya. Begitu jawabnya, sambil mereka lari dari ruang sidang,” tutur Ernita.

Persidangan fiktif dan diam-diam itu hanya diikuti Majelis Hakim yang terdiri dari Oloan Exodus Hutabarat sebagai Ketua, Hakim Anggota Joni dan Hakim Anggota Andini. Sedangkan JPU adalah Ikwan Ratsudi. Dan Sipir Sudarman.

“Hanya mereka saja yang bersidang. Kami yang menunggu persis berada di depan kaca ruang sidang, didiamkan dan tidak dipanggil. Tidak diberitahu. Kami di situ loh sejak pagi sampai sore. Tidak kemana-mana,” ujarnya.

Ernita menekankan, dia menggugat sipir yang melakukan penganiayaan berat terhadap anaknya Renhad Hutahaean di Lapas. Namun, dalam beberapa kali persidangan, si pelaku penganiayaan yang sudah mengakui perbuatannya, dilindungi oleh Jaksa, dan selalu mengarahkan bahwa pasal yang dikenakan adalah penganiayaan ringan.

“Para pengkhianat jaksa dan hakim maupun sipir itu. Kami mengadukan persidangan fiktif ini ke Jaksa Agung dan Mahkamah Agung dan Menteri Hukum dan HAM. Tolong perhatikan kami orang susah dan teraniaya ini. Tegakkan hukum,” tutur Ernita.

Sementara itu, Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung (Sesjamwas) Tony Tribagus Spontana berjanji akan memeriksa jaksanya itu. “Akan kami monitor dan akan ditindaklanjuti,” ujar mantan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta ini.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*