Breaking News

Empat Belas Tahun Jadi Jongos PT Pelindo I, Buruh Joko Ingin Bertemu Presiden Joko

Empat Belas Tahun Jadi Jongos PT Pelindo I, Buruh Joko Ingin Bertemu Presiden Joko.

Maksud hati hendak menemui Joko Widodo Sang Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, apalah daya, hingga kini Sang Presiden tidak kunjung menyempatkan waktunya untuk menemui para buruh yang telah melakukan aksi long march dari PT pelindo I Medan yang kini sudah tujuh hari berada di Jakarta.

 

Sudah tiga hari juga Joko dan kawan-kawannya dari Pengurus Komisariat Serikat Buruh Sejatera Indonesia (PK SBSI) Kopkarpel UPTK Belawan-Pelindo I dari Federasi Industri, Kesehatan, Energi dan Pertambangan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FIKEP SBSI) Medan menggelar aksi damai di depan Istana negara, bahkan sampai menginap dan tidur di trotoar, halte bus, dan tenda milik polisi kala bermalam di depan Istananya Sang Presiden Jokowi itu, namun nasib para buruh yang sedang memperjuangkan agar diangkat sebagai pegawai tetap di PT Pelindo I Belawan, tidak juga mendapat perhatian dari Jokowi.

 

Pria kelahiran Belawan, 29 November 1976 ini bernama lengkap Joko Pramono. Dia adalah salah seorang buruh PT Pelindo I Belawan yang turut dalam aksi long march atau jalan kaki dari Medan hingga ke Jakarta, dengan menempuh waktu 40 hari dan menempuh jarak 2000 kilometer.

 

“Saya Joko, lengkapnya Joko Pramono, saya hanya jongos alias buruh. Bukan Joko yang sekarang lagi hidup dan tinggal di Istana Negara yang megah,” ujar Joko Pramono bergurau, saat ditemui di Kantor Dewan Pengurus Pusat Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (DPP SBSI) Jalan Tanah Tinggi II, Johar Baru, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Sabtu malam (04/03/2017).

 

Joko yang ini memang sudah tidak diperbolehkan melanjutkan aksinya di depan Istana Negara. Dia bersama ratusan kawan-kawannya buruh PT Pelindo I ditampung sementara di Kantor DPP SBSI. “Masih menunggu langkah selanjutnya,” ujar Joko.

 

Setibanya di Kantor DPP SBSI, Joko mencari ruangan yang agak lega sekedar menaruh pakaian dan tasnya. Dia juga menyempatkan diri membersihkan diri, mandi dan juga berbincang dengan para pengurus DPP SBSI dan rekan-rekan buruh lainnya.

 

“Saya sudah 14 tahun bekerja di PT Pelindo I Belawan. Sejak mulai 2003,” ujar Joko.

 

Sebagai buruh, kata dia, jangan samakan kehidupannya dengan Pria bernama Joko yang kini berkuasa sebagai Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

 

“Nama mungkin mirip atau sama, namun saya Joko buruh di PT Pelindo I Belawan, sedangkan Bapak Joko yang satu itu kini Presiden dan enak hidupnya di Istana. Joko yang di Istana tidak tidur di trotoar depan Istana, atau di halte bus demi memperjuangkan nasibnya. Sedangkan saja Joko yang harus berjuang keras untuk hak-hak dan kehidupan saya sebagai buruh,” tuturnya.

 

Sejak bekerja di PT Pelindo I Belawan, Putera Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) ini mengaku masih hidup kesulitan. Dia hanya bekerja sebagai telly di PT Pelindo I selama 14 tahun ini.

 

“Gaji pokok sebesar dua juta dua ratus tiga puluh tujuh ribu rupiah per bulan. Ditambah insentif atau uang berkah, saya bisa membawa uang pulang ke rumah sebesar tiga juta dua ratus ribu rupiah per bulannya,” ujar Joko Pramono.

 

Kini Joko telah memiliki dua orang anak laki-laki yang masih berusia kecil. Anak pertama dinamainya Syafwan Fahrezi berusia lima tahun, dan masih duduk di sebuah sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Islam di Kota Medan. Anak kedua bernama Mohammad Aufar Adi berusia tiga tahun. Kedua anak itu adalah hasil pernikahannya dengan seorang gadis Melayu bernama Hilmayani (31 tahun), yang kini menjadi isterinya.

 

“Orang tua saya dulu juga bekerja di PT Pelindo I. Bapak saya bernawa Suwito, dia pegawai persero, membawa kapal di PT Pelindo I. Sudah pensiun,” ujar Joko.

 

Ayahnya, lanjut Joko, kini tinggal menetap di Kota Batam, Kepulauan Riau, bersama ibu dan tiga orang saudaranya. “Karena sejak pensiun, Bapak saya lebih memilih tinggal di Batam. Ada rumah kecil milik Bapak saya di sana,” ujarnya.

 

Ibunya Joko adalah perempuan berdarah Minang. Sejak menikah dengan ayahnya, baik Ibunya dan Joko bersaudara belum pernah pulang kampung ke Jawa Tengah. “Ada eyang di sana, dulu pernah telepon. Tetapi belum sempat mampir,” ujar Joko.

 

Selama 14 tahun bekerja sebagai telly di PT Pelindo I Belawan, Joko mengaku belum sanggup memiliki rumah sendiri. Saat ini, dia masih menumpang tinggal di Rumah Mertuanya di Kawasan Aloha, Martubung, Medan, yakni di Jalan KL Yos Sudarso.

 

“Saya bersama isteri dan anak-anak saya masih menumpang di rumah mertua. Mertua saya tinggal satu yang masih hidup. Mertua perempuan, sudah berusia sekitar 67 tahun. Kami tinggal bersama tiga orang saudara ipar saya. Saya belum punya uang untuk memiliki rumah sendiri. Ya sekalian bantu-bantu mertua dan saudara saja tinggal di rumah mertua,” ujar Joko.

 

Dia berharap, Presiden Jokowi mau menerima para buruh PT Pelindo I yang melakukan aksi di Jakarta. Joko juga berharap Presiden Jokowi akan menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi di PT Pelindo I.

 

“Jika persoalan kami ini sudah selesai, Bapak saya dari Batam meminta saya mampir ke Batam. Sudah lama juga tidak jumpa dengan orang tua saya di Batam. Sudah lima tahun,” ujarnya.

 

Hal yang sama juga dialami Isteri dan anak-anaknya. Sejak anak pertamanya berusia enam buulan, orang tua Joko sudah tidak pernah bertemu dengan menantu dan cucu-cucunya. “Pernah dibilang main ke Batam, tetapi enggak bisa, sebab Isteri dan anak-anak saya langsung muntah dan tidak tahan naik kapal ke Batam. Sedangkan naik mobil saja ke Parapat muntah-muntah di jalan. Nantilah kalau ada waktu yang baik lagi,” ujar Joko.

 

Joko tidak menyesal karena ikut aksi ke Jakarta. Menurut dia, memang pihak manajemen PT Pelindo I sudah diskriminatif dan berupaya menghabisi mereka. “Kami tidak mau dijadikan pegawai outsourcing. Saya saja sudah 14 tahun bekerja. Masa out sourcing lagi? Kami berharap Bapak Presiden Jokowi bersikap adil dan mau menerima kami bertemu, dan menyelesaikan persoalan ini. Sejak lama, kami tak pernah digubris oleh manajemen PT Pelindo I, hanya Pak Presiden Jokowi saat ini yang bisa kami harapkan akan menyelesaikan persoalan kami ini,” harap Joko.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*