Breaking News

Dua Tahun Memerintah, Indonesia Hanya Habiskan Banyak Energi Urus Isu

Dua Tahun Memerintah, Indonesia Hanya Habiskan Banyak Energi Urus Isu.

Pemerintah Indonesia diingatkan agar tidak hanya sibuk melakukan senda gurau dan hanya banyak menghabiskan energi rakyat mengurusi isu-isu yang tak begitu penting.

 

Selama dua tahun berjalan, di pemerintahan Jokowi-JK ini, persoalan dan perdebatan isu menjadi santer dibahas menghabis-habiskan energi publik.

 

Hal itu disampaikan Ketua Rumah Aspirasi Rakyat (RAR) Ferdinand Hutahaean. Menurut dia, publik dan para pejabat tinggi negara ini hanya sibuk dengan sejuta isu dan negara diurus dengan senda gurau saja, tanpa hasil yang konkrit.

 

Menurut Direktur Eksekutif Energy Watch Indoesia (EWI) ini, Indonesia membutuhkan pemimpin dengan kapasitas dan kapabilitas yang cukup besar, agar mampu memimpin Indonesia.

 

“Indonesia adalah sebuah negara yang serba multi, di sudut-sudut kehidupannya. Karena itu perlu pemimpin yan memiliki kapasitas dan kapabilitas tinggi, bukan pemimpin yang hanya asyik berendagurau dan malah sibuk dengan isu-isu tak jelas, seperti sekarang ini,” tutur Ferdinand, dalam siaran persnya, Rabu (08/03/2017).

 

Dia menyampaikan, Presiden dan kabinetnya tidak boleh pas-pasan saja. Sebab, untuk Indonesia, seorang pemimpin yang memiliki kapasitas dan kapabalitas mencukupi pun, masih saja belum mampu menyenangkan dan membuat sejahtera rakyat bangsa ini secara keseluruhan.

 

Saat ini, lanjut dia, Indonesia berubah menjadi negara yang kehilangan kebenaran, berubah jadi negara yang subur dengan kebohongan dan produktif dengan isu.

 

“Yang lebih menyedihkan, negara diurus dengan senda gurau berlebihan, yang mengakibatkan negara kehilangan keseriusan dalam pemerintahannya,” katanya.

 

Sebagai contoh, kata dia, Presiden Jokowi memperlakukan tamu Sri Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud ketika di meja makan. Presiden malah sibuk merekam sebuah video konyol dan merekam Raja Salman sedang menikmati makanannya yang kemudian diunggah di situs vlog.

 

“Sungguh konyol dan tidak menunjukkan etika yang baik, namun apa yang bisa kita lakukan? Itulah presiden kita saat ini,” ujarnya.

 

Ferdinand menduga, di sela kunjungan Raja Salman ke Indonesia, tampaknya ada yang sudah merencanakan untuk memproduksi isu demi kepentingan politik. Bahkan dugaan rancangan skenario kepentingan politik itu melibatkan orang-orang penting di republik ini.

 

Padahal, rancangan itu bukan sesuatu yang penting. Namun karena isu ini berkaitan dengan seorang terdakwa penodaan agama, maka menjadi sangat hati-hati dilakukan bahkan publik belum yakin akan terjadi hingga pada saat hari kedatangan Raja Salman.

 

“Adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, terdakwa penodaan agama Islam yang turut diundang Istana untuk menyambut langsung Raja Salman di Bandara Halim Perdana Kusumah,” katanya.

 

Tindakan itu, kata dia, sungguh sebuah praktek ketidakpatutan yang ditunjukkan rejim ini. Raja Salman adalah pemimpin negara dimana Islam turun dan disanalah Al-Quran diturunkan, apakah pantas penoda agama Islam turut menyambut raja Salman?

 

Tidak hanya itu, bahkan tidak lama berselang, setelah Raja Salman turun dari pesawat dan berjabat tangan dengan rombongan Presiden Jokowi yang menyambutnya, dunia media sosial tiba-tiba dibanjiri oleh foto jabat tangan Ahok dengan Raja Salman.

 

“Dunia medsos dan dunia percakapan publik pun tiba-tiba over dosis tentang jabat tangan tersebut. Publik sibuk berbantah lisan maupun tulisan. Ada yang membenarkan, ada juga yang membantahnya dengan menyebutnyahoax,” katanya.

 

Dia pun merasa kasihan melihat kepemimpinan bangsa ini. Ferdinand mengatakan, kunjungan Raja Salman didominasi berita jabat tangan yang menyihir itu daripada fakta realita sesungguhnya.

 

“Ada dimana kini rencana investasi 300-an trilliun rupiah yang dibesar-besarkan itu?” ujarnya.(JR)

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*