Breaking News

Distribusi dan Akses Solar untuk Nelayan Masih Bermasalah

Distribusi dan Akses Solar untuk Nelayan Masih Bermasalah.

Pemerintah diingatkan segera menyelesaikan persoalan ketersediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi nelayan. Hingga saat ini, bukan hanya untuk premium, namun akses dan distribusi solar juga belum ada solusi.

Ketua Departemen Advokasi dan Jaringan DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Misbachul Munir, menyampaikan bahwa terbitnya Perpres No. 43/2018 sebagai Revisi Perpres No. 191/2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak seharusnya juga dapat menyelesaikan permasalahan distribusi dan akses BBM bersubsidi untuk nelayan tradisional di kampung-kampung nelayan.

“Namun, hingga kini, nelayan tradisional di pelosok nusantara masih mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan akses BBM Solar dan juga BBM premium dengan standar harga eceran nasional,” tuturnya, Selasa (05/06/2018).

Munir melanjutkan, jika pun dengan harga yang sesuai harga eceran nasional, BBM Solar dan BBM Premium tersebut masih langka dan sulit didapat.

Berdasarkan fakta yang didapati,  kata dia, harga solar dan premium yang dibeli nelayan hampir separuh dari harga yang sudah di tentukan oleh pemerintah.

“Sejumlah fakta kami temukan di kampung-kampung nelayan, bahwa untuk kebutuhan operasional melaut, nelayan harus membeli dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga yang sudah di atur oleh pemerintah,” katanya.

Di Lombok Timur, lanjutnya, harga jual premium adalah Rp 8000 per liter, sedangkan solar Rp 6000 per liter. Di Teluk Maumereka,Lembor Selatan-Labuan Bajo, Lembata di NTT harga jual premium adalah Rp 10.000 per liter, sedangkan solar Rp 6000.

Kepulauan Sepanjang-Sapeken, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, harga jual premium adalah Rp 8000 per liter, sedangkan solar Rp 9000 per liter.

Kota Surabaya, di kampung nelayan nambangan, Cumpat, kejawan, tambak wedi, Sukolilo, Kenjeran, dan sekitarnya, harga jual premium adalah Rp 9000 per liter, sedangkan solar Rp 8000 per liter.

Padang tikar, Sepuk Laut, dan lokasi lainnya di sekitarnya Provinsi Kalimantan Barat, harga jual premium adalah Rp 9000-10.000 per liter, sedangkan solar Rp 8000 per liter. Medan, Tanjung Balai Asahan, hingga Langkat, harga jual premium adalah Rp 6.700-8.500 per liter, sedangkan solar Rp 7000 per liter.

Dari fakta harga BBM Solar dan BBM Premium di kampung-kampung nelayan itu, lanjut dia, Pemerintah masih mengulangi kesalahan yang sama.

“Pemerintah masih membiarkan nelayan membeli BBM dengan harga di atas ketentuan pemerintah,”  ujarnya.

Pembiaran tersebut menyebabkan ongkos melaut dan marjin keuntungan yang bisa didapat semakin mengecil pada akhirnya menyebabkan terjadinya keterpurukan perekonomian nelayan.

Setiap harinya ada ongkos BBM Solar maupun BBM Premium yang biasa digunakan oleh setiap nelayan lebih kurang lebih Rp.25.000 sampai Rp.30.000, jika nelayan membeli BBM dengan harga yang normal.

Sehingga, kata Munir, harus ada langkah cerdas dari pemerintah untuk perbaikan tata niaga dari BBM Solar dan BBM Premium serta mengoptimalikan pendistribusiannya.

“Salah satu model yang bisa didorong adalah dengan mengoptimalkan fungsi organisasi nelayan serta koperasi nelayan sebagai pengelola distribus BBM di kampung-kampung Nelayan,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*