Breaking News

Dirjen PAS Ungkap Sejumlah Modus Penyeludupan Narkoba ke Lapas

Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM, I Wayan Kusmiantha Dusak: Mengurus Lapas itu enggak gampang. Enggak seperti jagain hewan peliharaan di kandang lho. Ini memiliki kompleksitas persoalan, tidak mudah!

Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM, I Wayan Kusmiantha Dusak mengungkapkan sejumlah modus penyeludupan dan bisnis narkotika ke dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP).

Menurut dia, pergerakan peredaran narkoba itu sesungguhnya dimulai dari luar LP. Misalnya, tidak mungkin ada henpon atau telepon genggam milik napi kalau tidak ada orang dari luar yang memasukkannya.

“Paling tidak, ada sembilan jalur penyeludupan atau penyusupan yang dilakukan untuk memasukkan narkoba, termasuk barang-barang berbahaya lainnya,” ungkap I Wayan Kusmiantha Dusak saat berbincang dengan Sinar Keadilan di kantornya, beberapa waktu lalu.

Pertama, jalur kunjungan atau bezuk. Modus anggota keluarga napi, teman, kuasa hukum, atau bahkan rohaniawan yang masuk memberikan siraman rohani kepada napi. Entah disengaja atau tidak, disadari atau tidak, orang-orang ini bisa dimanfaatkan oleh napi untuk menyeludupkan barang-barang yang diinginkannya.

Penyeludupan barang bisa melalui dompet, lipatan baju, di dalam makanan, di konde, di dalam rambut panjang, celana dalam, jepitan rambut bahkan di dubur.

Tanpa berupaya menuduh seseorang, misalnya rohaniawan, lanjut Dusak, bisa saja dimanfaatkan napi untuk mencapai tujuannya.

Kan napi-napi itu cerdas loh. Entah dengan mempergunakan belas kasihan si rohaniawan, menitipkan catatan yang harus disampaikan ke orang di luar LP. Padahal isi catatannya itu misalnya tentang narkoba yang hendak dimasukkan ke LP. Si rohaniwan kan tidak sadar bahwa posisinya sedang dimanfaatkan. Jadi semua cara diupayakan si napi kok,” ungkapnya.

Petugas LP pun bisa secara sadar atau tak sadar termanfaatkan. Karena itulah petugas harus jeli, harus memiliki kemampuan interogasi atau berkomunikasi yang baik, seraya memantau pengunjung. Petugas harus memiliki ilmu psikologis. Jika misalnya ada seorang perempuan bezuk, tetapi waktu diperiksa di pintu, helaan nafasnya tidak teratur atau keringetan, ya petugas mestinya layak mencurigainya.

Walaupun setelah digeledah seluruh badannya tidak ditemukan narkoba, tetapi bisa saja dia menelan atau memasukkan lewat dubur. “Enggak mungkin petugas memeriksa dubur di situ, harus ada cara yang lain. Yang pasti, si pengunjung itu sudah menunjukkan ketidaknyamanannya ketika diperiksa di pemeriksaan sebelum masuk LP,” ujar Dusak.

Bisa juga dilakukan operasi dengan anjing pelacak. Jika anjing mengendus dan mencium bau keringat seseorang, akan bisa diketahui apakah yang bersangkutan membawa barang narkoba atau lainnya.

Nah, ini harus aware, pastinya ada apa-apa itu dengan pengunjung begitu. Yang seperti ini kan tidak dipelajari di sekolah, dan tidak semua petugas LP memahami dan memiliki kemampuan seperti itu,” ujarnya.

Jalur penyeludupan kedua, adalah pegawai atau petugas. Ada petugas yang bisa disogok atau dibayar. Ada karena hubungan keluarga dengan petugas, atau pertemanan. Dan dia menjadi tidak waspada.

Jalur ketiga, dari bahan makanaan. Sering juga napi dikirim sanak saudara atau siapa saja makanan ke dalam LP. Narkoba bisa dimasukin lewat makanan itu. Bisa ditaruh di dalam buah, di dalam perut ikan lele dan lain sebagainya.

Jalur keempat, koperasi. Di LP ada koperasi dimana napi juga berbelanja di sana. Nah, kadang pertugas koperasinya dimanfaatkan untuk menyeludupkan barang. Kelima, lewat kunjungan resmi. Seperti muballik dan rohaniawan yang ada kunjungan resmi, bisa dimanfaatkan. Keenam, napi yang kerja asimilasi. Misalnya, napi yang ditugaskan membuang sampah, atau kebersihan. “Kan ada kesempatannya bersentuhan dengan pihak luar. Itu juga dimanfaatkan,” ujar Dusak.

Ketujuh, tahanan sidang. napi menitipkan bertemu dengan tahanan sidang di sekitar pengadilan. Sebab nanti napi itu selesai disidang akan kembali lagi ke LP. Kedelapan, kunjungan insidentil, misalnya, pada hari-hari besar keagamaan, atau hari merah nasional, atau perayaan-perayaan hari kemerdekaan. Orang masuk ke LP, rupanya dimanfaatkan membawa barang-barang. Atau ada kegiatan seni atau konser musik menghibur napi di LP, rupanya ada yang diminta bawa narkoba.

Kesembilan, ruang kosong. Seperti ada orang melemparkan botol aqua kosong dari luar LP, rupanya isinya narkoba, atau benda-benda lainnya yang memiliki ruang kosong, seperti bola kasti.

“Dilempar ke dalam LP dan di dalamnya ada barang. Kalau sekarang, mungkin bisa lewat pesawat drown. Dulu pun ada modus dengan layang-layangan. Ada orang bermain layang-layang di luar LP, rupanya diarahkan masuk ke LP. Nah, ini tidak semua petugas memahami. Makanya perlu pendidikan dan pelatihan,” terang dia.

Dia menjelaskan, para narapidana bukanlah orang bodoh. “Yang kita hadapi adalah para narapidana atau orang-orang jahat. Mereka itu manusia yang tidak bodoh. Dan mereka juga bukan hewan kan. Mengurus Lapas itu enggak gampang. Enggak seperti jagain hewan peliharaan di kandang lho. Ini memiliki kompleksitas persoalan, tidak mudah,” papar I Wayan Kusmiantha Dusak.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*