Breaking News

Dilecehkan di National Hospital Surabaya, Korban Datangi Komnas Perempuan

Dilecehkan di National Hospital Surabaya, Korban Datangi Komnas Perempuan.

Jelang sidang perdana kasus pelecehan seksual di National Hospital Surabaya, korban dan kuasa hukumnya mendatangi Komnas Perempuan. Hal ini ditujukan untuk meminta dukungan dan pemantauan dari lembaga tersebut terkait kasus pelecehan seksual di rumah sakit.

 

Kuasa hukum korban, Triana Dewi Seroja, menuturkan berkas kasus pelecehan yang menimpa W sudah P21, dimana persidangan perdana bakal segera dilaksanakan di Pengadilan Negeri Surabaya. Pihaknya sengaja mendatangi Komnas Perempuan untuk meminta dukungan dan perlindungan bagi korban.

 

“Kami juga meminta Komnas Perempuan untuk hadir dalam persidangan, untuk men-support moral,” katanya di Kantor Komnas Perempuan, Jalan Latuharhary, Jakarta, Sabtu (17/03/2018).

 

Triana menerangkan, dari kasus yang menimpa W, pelecehan terjadi karena ada kesempatan. Dalam kasus itu, pasien perempuan yang sudah dioperasi hanya mengenakan baju seadanya. Pihaknya juga mengusulkan agar Komnas Perempuan mendorong pemerintah meminimalisasi kasus pelecehan di rumah sakit dengan cara pasien perempuan harus dilayani perawat perempuan. Dalam kasus W, pasien berada di-transfer area sampai 2 jam. Kondisi ini sangat rentan jika pasien dilayani perawat laki-laki.

 

Menurutnya, pihak korban akan membuka sejumlah fakta-fakta dalam persidangan. “Perlu kami sebutkan, ibu W ini adalah pasien kelas tiga di rumah sakit tersebut, bukan pasien VIP sebagaimana yang digembar-gemborkan. Dan semua orang berhak mendapat keadilan, mau orang kecil atau orang gedongan,” ujarnya.

 

Sementara itu, W, korban pelecehan seksual mengatakan dirinya ingin mendapat keadilan dalam kasus yang menimpanya. Dia mengungkapkan, rekaman dirinya yang sempat viral dibuat di ruang rawat inap.

 

“Disana tidak ada larangan untuk merekam, dan waktu pra rekonstruksi di rumah sakit, pelaku mendatangi saya untuk maaf, sampai 3 kali,” katanya.

 

W menyatakan pihaknya akan terus melanjutkan perkara ini karena sudah menyangkut harkat dan martabat dirinya. Dirinya kecewa dengan sejumlah pernyataan di media massa dan media sosial bahwa dalam kasus ini pihaknya seolah keras terhadap ‘orang kecil’.

 

“Saya juga orang kecil, saya masuknya di ruang perawatan kelas 3,” ujarnya.

 

Komisioner Komnas Perempuan bidang pemantauan kekerasan terhadap perempuan, Adriana Venny, mengatakan terkait pengaduan korban dan kuasa hukumnya pihaknya membutuhkan dokumen pendukung seperti surat laporan polisi dan hasil rekonstruksi.

 

“Kira juga siap membantu di proses pengadilan jika korban membutuhkan saksi ahli,” katanya.

 

Pihaknya juga mewacanakan untuk membuat usulan kepada Kementerian Kesehatan agar membuat regulasi yang lebih tegas untuk menghindari kasus pelecehan seksual di rumah sakit. Untuk itu, Komnas perempuan akan mengumpulkan data dan kasus-kasus serupa.

 

“Mungkin banyak korban pelecehan seksual belum mau mengatakan ke publik bahwa dirinya adalah korban, mungkin korban pikir orang tidak percaya pada dia,” ujar Adriana.

 

Selain itu, pihak rumah sakit juga harus bergerak cepat begitu ada komplain terkait dugaan pelecehan seksual.

 

“Komnas Perempuan terus mendorong pengesahan UU Penghapusan Kekerasan Seksual agar payung hukum terkait kasus-kasus kekerasan seksual menjadi lebih jelas,” ujarnya.

 

Untuk diketahui, kasus pelecehan seksual di National Hospital Surabaya bermula saat tersangka J diduga melecehkan salah seorang pasien berinisial W. Kasus tersebut mencuat dan menjadi perhatian polisi setelah video pengakuan korban pada perawat atas perbuatan cabul yang dilakukan.

Video berdurasi 52 detik itu juga menjadi viral di media sosial. Terduga pelaku belakangan ditangkap oleh anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya dan dijerat Pasal 290 Ayat 1 KUHP tentang perbuatan cabul kepada orang yang tidak berdaya dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*