Breaking News

Diincar Serangan Bom Teroris, Polri Diingatkan Tetap Antisipasi Arus Balik Lebaran

Ada dugaan aliran dana dari ISIS Suriah ke Indonesia, Polri harus waspada dong.

Serangan bom di Solo menunjukkan bahwa polisi masih menjadi target teroris di Indonesia. Ledakan bom bunuh diri menjelang idul fitri adalah aksi paling biadab di negeri ini. Aksi ini tidak hanya meresahkan umat islam yang hendak meraih kemenangan pasca puasa ramadhan, tapi juga bisa membuat resah para pemudik yang sedang terperangkap kemacetan parah di Jalur Pantura, karena itu Polri harus melakukan upaya antisipatif di masa-masa mudik dan arus balik nantinya.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengingatkan, bukan mustahil para teroris melakukan serangan ke tempat itu mengingat di titik kemacetan itu banyak terdapat polisi.

“Untuk itu polri perlu melakukan antisipasi maksimal, terutama di jalur mudik. Sebagai negara besar yang sangat terbuka dengan lautan yang luas, Indonesia memang sangat berpotensi dengan segala kerawanan, termasuk rawan terhadap teror. Kondisi inilah yang kerap dimanfaatkan kelompok-kelompok radikal untuk membuat terror,” ujar Neta S Pane dalam siaran persnya, (Rabu, 06 Juli 2016).

Menurut Neta, berbagai peluang dimanfaatkan oleh kelompok teroris radikal untuk menebar teror. Momentum-momentum penting pun dipergunakan untuk membuat kekacauan, dengan tujuan agar eksistensi mereka muncul dan seolah-olah mereka masih kuat dan terkonsolidasi.

Padahal, kata Neta, sesungguhnya kelompok radikal yang pernah menebar teror di negeri ini sudah porakporanda kekuatannya. “Berbagai penggerebekan yang dilakukan polri di kantong-kantong radikalisme membuat gerakan teror semakin sempit dan sulit melakukan konsolidasi. Meski demikian dengan berbagai cara, sekecil apapun peluangnya, kelompok-kelompok teror itu berusaha muncul dan melakukan aksinya,” ujar Neta.

Dikatakan dia, Solo sendiri dikenal sebagai salah satu basis kelompok radikal di Indonesia. Berbagai aksi teror dan serangan terorisme pernah terjadi di kota ini. Tapi ironisnya polisi di Solo selalu lengah.

Neta mengingatkan, dengan masuknya pelaku terror hingga ke halaman kantor Polres Solo menunjukkan lemahnya antisipasi dan deteksi dini dari Polisi.

Memang, lanjut dia, berbagai penangkapan terduga teroris di Solo kerap dilakukan. Tapi para teroris selalu berusaha mencari peluang dan momentum.

“Mereka ingin mencuri peluang di hari penting, seperti natal, tahun baru dan hari kemerdekaan. Teror bom menjelang idul fitri tak pernah diduga sebelumnya. Tapi, memang, siapa pun sulit memprediksi akan adanya aksi terror,” ujarnya.

Yang mesti juga diperhatikan, lanjut Neta, sulit mengabaikan adanya dugaan para teroris merencanakan aksi di hari-hari penting, terutama setelah adanya penggerebekan di Solo beberapa waktu lalu. Apalagi, kata dia, mengingat solo adalah kawasan rawan, berbagai aksi radikalisme dan aksi teror pernah terjadi kampungnya Presiden Jokowi itu, sehingga kewaspadaan di Solo patut ditingkatkan dan tidak boleh kendor.

“Sepertinya bom di depan Polres itu adalah sebagai serangan balasan, dan sebagai peringatan bahwa kelompok radikal di Solo masih ada dan masih kuat. Tak ada kata lain, kelompok ini harus segera dilumpuhan oleh polri dengan segera,” ujar Neta.

Neta menduga, kelompok Solo itu pun masih berkaitan dengan kelompok separatis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Neta menyebut serangkain serangan yang dilakukan ISIS di sejumlah tempat. Pada November 2015, ISIS melakukan serangan di Paris, Perancis, yang kemudian disusul sejumlah serangan di Negara lain, termasuk serangan di Sarinah, Jakarta Pusat, yang terjadi beberapa waktu kemudian.

Begitu juga, lanjut Neta, serangan yang waktunya hampir bersamaan terjadi di Kota Madina, Arab Saudi, yang kemudian diikuti dengan serangan di Solo.

Pelaku serangan di Solo diduga dilakukan kelompok baru yang otak intelektualnnya adalah kelompok lama. “Dan kelompok ini berusaha mencari simpati, mengingat adanya sejumlah tokoh radikal Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Syuriah,” ujar Neta.

Sejak lima tahun terakhir, lanjut dia, sasaran teroris Indonesia bergeser dari kepentingan Barat kepada kepentingan aparat keamanan, khususnya polisi. Serangan terhadap polisi makin tinggi tatkala ada sejumlah tokoh radikal yang sudah berhasil bergabung denagn ISIS di Syuriah.

“Ada tiga target mereka menyerang polisi. Pertama sebagai aksi balas dendam karena polisi menangkapi dan menembak mati teman mereka. Kedua, polisi dianggap sebagai musuh utama karena menghalang-halangi gerakan mereka. Ketiga, menyerang polisi untuk menaikkan gengsi kelompok radikal,” ungkap Neta.

Meski begitu, Neta mengingatkan, jajaran kepolisian jangan malah kebobolan dalam mengantisipasi dan mengejar para kelompok radikal itu. Bom di depan kantor Polisi di Solo, lanjut Neta, harus menjadi pelajaran yang tak boleh terulang kembali.

“Jajaran kepolisian Solo, khususnya Polda Jateng ceroboh dan kebobolan. Sebab selama ini sudah terjadi berbagai serangan, bahkan beberapa waktu lalu Posko mudik lebaran di Solo juga diserang kelompok teroris, dan Polri aktif melakukan penangkapan di Solo beberapa waktu terakhir, seharusnya hal ini diantisipasi dengan ketat. Apalagi mengingat Solo adalah salah satu basis kelompok radikal,” pungkas Neta.

Sementara itu, Mabes Polri memastikan kondisi keamanan di kota Solo atau Surakarta dan sekitarnya masih tergolong aman pasca ledakan.

“Situasi di wilayah Surakarta pasca bom bunuh diri dalam keadaan kondusif,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Agus Rianto di Jakarta, Selasa (5/7/2016).

Begitu terjadi ledakan itu, Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti, Kepala BNPT Komjen Tito Karnavian, dan Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar segera menuju di Solo.

“Kapolri, Kepala BNPT, Kadiv Humas Polri sudah ada di Solo. Ya untuk memantau dan mengecek langsung wilayah Polresta Surakarta pasca bom bunuh diri itu,” ujar Agus.

Polda Jawa Tengah bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri dan tim Densus 88, masih terus menyelidiki peristiwa yang melukai seorang anggota provost Brigadir Bambang Adicahyanto.

Dari olah TKP, petugas menemukan sejumlah material bom. “Antara lain ada beberapa gotri, serpihan benda lain, dan bekas-bekas mesiu akibat ledakan,” ungkap Agus.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*