Breaking News

Di Indonesia, Buruhnya Tak Kompak, Posisi Bargaining Lemah

Di Indonesia, Buruhnya Tak Kompak, Posisi Bargaining Lemah.

Bargaining position atau daya tawar buruh Indonesia sangat lemah di dalam negeri. Hal itu disebabkan buruh dan organisasi serikatnya sibuk dengan urusan perut, serta tidak kompak dalam memperjuangkan nasibnya.

Hal itu diungkapkan Pembina Utama Komunitas Buruh Indonesia (KBI) Jacob Ereste. Menurut dia, ketidakkompakan buruh itu terlihat dari lemahnya posisi berunding buruh dalam penentuan upah. Selain itu, segmen buruh Indonesia juga menjadi tidak jelas sikap dan keberpihakannya dalam konstelasi pengambilan kebijakan.

“Kesadaran buruh jangan cuma sebatas perut. Kesadaran berorganisasi kaum buruh Indonesia menjadi penyebab utama kaum buruh tidak diperhitungkan dalam posisi runding. Hendak diposisikan sebagai kelompok penekan atau sebagai kelompok pengawal saja tak jelas. Apalagi jika diharapkan sebagai kelompok penentu dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan masalah buruh, tidak dianggap,” tutur Jacob Ereste, di Jakarta, Sabtu (26/05/2018).

Bahkan, lanjut Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Federasi Bank, Keuangan dan Niaga Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FBKN SBSI) ini, belakangan ini, membludaknya serbuan tenaga kerja asing (TKA) tidak membuat buruh Indonesia solid.

“Suara kaum buruh, termasuk dari organisasi buruh pun sekedar mendesis saja. Seperti ular yang tidak berbisa, bahkan tidak pula memiliki keberanian untuk mematok,” ujar Jacob.

Padahal,  menurut dia, TKA adalah ancaman serius bagi kaum buruh serta angkatan kerja Indonesia di negerinya sendiri. Dampak dari kehadiran TKA itu, katanya lagi, bisa menjadi ancaman yang tidak alang kepalang bahayanya bagi bangsa dan negara Indonesia di masa depan.

“Sebab, merangseknya TKA ke negeri kita jelas akan berdampak buruk pada kondisi ekonomi nasional, politik global dan budaya bangsa Indonesia secara menyeluruh, hingga akan merusak tatanan sosial serta nilai keagamaan kita,” jelasnya.

Tak bisa dipungkiri, menurut Jacob, kerukunan umat beragama di Indonesia terpengaruh dengan masuknya TKA ke Tanah Air.

“Kekompakan dan kebersamaan masyarakat kita yang plural sesungguhnya dapat semakin menggembirakan manakala dapat dijaga dan terus dibangun melalui organisasi buruh,” ujarnya.

Idealnya, menurut dia, dalam organisasi buruh yang sehat, tidak mungkinkan bisa tumbuh sikap diskriminasi rasial. Tidak juga akan tumbuh sikap  pembenaran pada perilaku yang membedakan asal usul, serta latar belakang apapun antara yang satu dengan yang lain.

Itulah sebabnya, lanjut dia, kesadaran buruh untuk berorganisasi tidak bisa ditawar. Karena kaum buruh harus rukun, wajib kompak, mesti solider serta patut tolong menolong antara sesamanya.

“Dan ajaran agama, apapun agamanya, menyerukan kebijakan serupa itu untuk masing-masing ummah terbaiknya,” ujar Jacob.

Karena itulah, menurut dia, kesadaran kaum buruh Indonesia harus segera ditingkatkan dari pemahaman ekonomi, melaju ke wilayah politik. Sebab nantinya akan bermuara pada pemahaman budaya yang dilandasi oleh kepribadian yang  bermartabat.

Pada dasarnya, ditegaskan Jacob, nilai upah buruh Indonesia itu murah. Upah buruh murah itu, lanjutnya, adalah bentuk penghinaan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan.

“Itu adalah bentuk penghinaan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan yang telah kita sepakati harus adil dan beradab,” ujarnya.

Pada konteks ini, katanya, harusnya ada sinkronisasi antara pengusaha bersama rezim penguasa yang mengaku sebagai insan Pancasila untuk berpihak kepada buruh Indonesia.

“Jika ada sinkronisasi itu ya patut kita aggukkan kepala. Jika tidak, ya omong kosong belaka,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*