Breaking News

Dedikasi Penginjil Jawa, PGIW Gelar Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung

Dedikasi Penginjil Jawa, PGIW Gelar Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung.

Untuk menapaktilas perjalanan penginjilan di Tanah Jawa, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah DKI Jakarta (PGIW Jakarta) melakukan serangkaian kegiatan, salah satunya dengan melakukan Pagelaran Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung.

Merphin Panjaitan dari Komisi Pekabaran Injil PGIW DKI Jakarta mengungkapkan, pada Persidangan Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI Wilayah Jakarta yang diselenggarakan pada 5-8 Maret 2018 telah menetapkan Program Pekabaran Injil PGIW DKI Jakarta untuk Tahun 2018, antara lain Pagelaran Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung.

Untuk itu, lanjut Merphin, Komisi Pekabaran Injil PGIW DKI Jakarta bekerjasama dengan Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) yang merupakan kelompok gereja Kristen Protestan di Indonesia yang berpusat di Pati, Jawa Tengah,  berencana akan menyelenggarakan Pagelaran Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung pada hari Rabu, 11 Juli 2018, pkl 19.00 sampai dengan 21.30 WIB, bertempat di Gedung Pondok Persaudaraan, Jalan Industri Raya No. 10 A, Jakarta Pusat.

“Penyelenggaraan Pagelaran Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung bertujuan menyebarluaskan sejarah Pekabaran Injil yang dijalankan oleh Eyang Ibrahim Tunggul Wulung,” tutur Merphin Panjaitan, di Jakarta, Selasa (19/06/2018).

Selain itu, lanjut Merphin, kegiatan tersebut juga untuk meningkatkan kemampuan gereja dan orang percaya dalam menjalankan tugas panggilan Pekabaran Injil dengan menggunakan seni budaya lokal, khususnya seni budaya Jawa.

“Serta menguatkan kerjasama dalam pelaksanaan pekabaran Injil, antara PGIW DKI Jakarta dengan gereja-gereja di Jawa Tengah, khususnya dengan GITJ Banyutowo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah,” ujarnya.

Sebagai bagian dari persiapan pagelaran sendratari ini, kata dia, pada Jumat, 1 Juni 2018, Komisi PI PGIW DKI Jakarta mengadakan bedah buku Eyang Ibrahim Tunggul Wulung, dengan pembicara Pdt Sukodono, salah seorang penulis buku tersebut.

Kemudian, pada hari Senin, 2 Juli 2018 akan dilanjutkan dengan diskusi dengan tema Pekabaran Injil di Tanah Jawa, dengan pembicara Pdt Abednego Utomo Prasetyo, STh, Dr Martin Sirait dan Pdt Hosea Sudarna, STh.

“Diskusi dengan tema Pekabaran Injil di Tanah Jawa ini akan dilanjutkan beberapa kali lagi, dan pada bulan November 2018 akan dilanjutkan dengan Lokakarya Pekabaran Injil di Tanah Jawa,” ujar Merphin.

Melalui serangkaian kegiatan ini, dia menuturkan lagi, diharapkan akan menghasilkan pemikiran dan gagasan untuk memperkuat gerakan pekabaran Injil di Tanah Jawa, dengan menggunakan media budaya Jawa, antara lain dengan pagelaran Sendratari Ibrahim Tunggul Wulung, pagelaran sendratari Kiai Sadrach, dan pagelaran sendratari Paulus Tosari.

“Berbagai pagelaran sendratari ini akan dimulai di Jakarta, dan kemudian bergerak ke seluruh Tanah Jawa, ke tengah-tengah masyarakat Jawa. Kita berharap, pekabaran Injil dengan menggunakan budaya Jawa ini akan memperkuat gerakan pekabaran Injil di Tanah Jawa, dan kemudian meluas ke seluruh Indonesia,” bebernya.

Merphin mengulas, di Tanah Jawa muncul beberapa orang Penginjil Jawa, antara lain Ibrahim Tunggul Wulung, Kiai Sadrach dan Paulus Tosari, yang menjalankan Pekabaran Injil (PI) dengan menggunakan budaya Jawa.

“Dan walaupun pengetahuan mereka tentang Kristen masih sedikit, tetapi mereka berhasil menghimpun banyak pengikut, bahkan lebih banyak dari hasil kerja Penginjil dari Eropa,” ujarnya.

Ibrahim Tunggul Wulung berasal dari daerah Juwono dekat Gunung Muria. Pada masa itu penduduk Jawa Tengah mengalami kesulitan ekonomi, dan Ibrahim Tunggul Wulung berkenalan dengan agama Kristen.

Pada tahun 1853, Ibrahim Tunggul Wulung muncul di Mojowarno, dan setelah itu ia mengadakan perjalanan PI ke Pasuruan, Malang, Rembang, Kawasan Gunung Muria, dan kemudian juga Jawa Barat. Di beberapa tempat ia menjadi perintis jemaat-jemaat Kristen baru, tetapi pemerintah Hindia Belanda dan juga para zendeling (misionaris) sering menilainya negatif.

“Kekristenan Ibrahim Tunggul Wulung dianggap sinkretis dan berisi unsur-unsur Jawa, misalnya, mengobati orang sakit seperti cara dukun, dengan menggunakan Doa Bapa Kami seperti mantera,” ungkap Merphin.

Pemerintah Hindia Belanda takut penyiaran agama Kristen oleh Ibrahim Tunggul Wulung akan menimbulkan gangguan keamanan dan para pengikutnya mengharapkan pembebasan dari kerja rodi. Walaupun menghadapi berbagai hambatan, Ibrahim Tunggul Wulung terus berkeliling menjalankan PI, selama 20 tahun.

“Pada waktu ia meninggal dunia, pengikutnya ditaksir lebih dari seribu orang,” ujar Pengamat Sosial dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini.

GITJ Banyutowo terletak di wilayah Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, berjarak kira-kira 37 Km dari Kota Pati dan 11 Km dari Kota Tayu.

Desa Banyutowo sendiri di buka oleh seorang bernama Kyai Ibrahim Tunggul Wulung sekitar tahun 1864. Saat itu desa banyutowo masih berupa hutan di tepi pantai wilayah Pantura. Kyai Ibrahim Tunggul Wulung juga yang merintis jemaat Kristen di Banyutowo.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*