Breaking News

Bikin Status di FaceBook, Sudah 59 Orang Pengguna Medsos Diburu Ormas, Aksi-Aksi Persekusi Harus Ditindak Tegas

Bikin Status Kritis, Sudah 59 Orang Pengguna Media Sosial Diburu Ormas Dengan Sewenang-wenang, Aksi-Aksi Persekusi Harus Ditindak Tegas.

Aksi persekusi atau memburu seseorang secara sewenang-wenang belakangan menjadi marak terjadi. Koalisi Masyarakat Sipil Anti Persekusi mencatat sudah 59 orang yang menjadi korban persekusi. Para korban merupakan orang-orang yang dianggap sebagai penista agama/ulama lewat postingan di media sosial seperti Facebook. Identitas dan alamat mereka disebarluaskan atau diviralkan dengan ujaran kebencian, mereka juga diancam kekerasan dan intimidasi, hingga sampai digeruduk oleh massa ormas.

 

Regional Coordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Juniarto menuturkan, istilah persekusi masih sering dicampuradukkan dengan main hakim sendiri. Padahal persekusi adalah tindakan memburu orang secara sewenang-wenang, sistematis dan meluas.

 

“Tujuannya adalah untuk menimbulkan penderitaan psikis maupun fisik para korban,” ujarnya dalam jumpa pers di Kantor YLBHI, Jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis (1/6/2017).

 

Dari 59 kasus persekusi yang sudah terdeteksi, pihaknya mencatat sejumlah tahapan kekerasan. Dimulai dari penentuan target, pendataan target, memviralkan target, dan ajakan memburu target dengan mobilisasi massa. Berikutnya, target dipaksa membuat permintaan maaf yang didokumentasikan dalam bentuk foto dan video, bahkan sampai dipidanakan.

 

SAFEnet sendiri menemukan database calon korban persekusi yang dinamakan ‘buronan umat Islam’. Dalam database tersebut bahkan dijelaskan identitas, foto, hingga alamat rumah dan kantor para target persekusi.

 

“Kejadian pertama adalah pada 27 Januari lalu, dan kejadian terbaru 31 Mei lalu, sudah 59 orang yang menjadi korban, jika ini tidak dihentikan maka tindakan seperti ini akan terus meluas,” kata Damar.

 

Koalisi Anti Persekusi juga membuka crisis center untuk menampung pengaduan soal tindakan persekusi. Para korban persekusi yang diancam teror atau diserang dapat menghubungi hotline pengaduan melalui telepon dan SMS ke 081286938292 atau email antipersekusi@gmail.com.

 

Ketua Badan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati mengatakan, persekusi merupakan kejahatan kemanusiaan yang masif dan meluas. Pihaknya mencatat, persekusi sudah meluas bahkan sempat terjadi bersamaan seperti beberapa waktu lalu di Balikpapan, Kutai Kertangera, Klaten, Jakarta, Tangerang, Madura, dan Jambi.

 

“Ada sekelompok orang yang bertindak berbarengan dengan mengincar target grup yang dibuat berdasarkan persepsi pelaku,” katanya. Dalam kasus-kasus tersebut, postingan para korban di-framing dan direproduksi untuk membangkitkan kemarahan massa.

 

Pihaknya mencatat, dalam kasus-kasus persekusi ada koordinasi yang sistematis. Dimana ada pelaku yang berperan untuk men-tracking, memviralkan, mengintimidasi, hingga melakukan kekerasan.

 

“Disini seolah ada yang berperan menjadi polisi, jaksa dan hakim tanpa proses hukum. Kalau ini dibiarkan maka negara akan kalah dan lumpuh,” ujar Asfinawati.

 

Dia meminta penegak hukum untuk menyelidiki aktor-aktor kasus persekusi ini. Akan sangat berbahaya jika kasus yang berlangsung sistematis dan meluas ini hanya dianggap persoalan horizontal.

 

“Jangan cuma menyasar mereka yang memviralkan tapi juga ungkap siapa saja dibalik tindakan persekusi ini.” tandasnya.

 

Salah satu korban persekusi asal Solok, Sumatra Barat, dr Fiera Lovita, menuturkan dirinya mengalami sejumlah kekerasan dan intimidasi setelah membuat postingan di Facebook pada 19-21 Mei lalu. Postingan tersebut diantaranya, ‘Kalau tidak salah, kenapa kabur? Toh ada 300 pengacara n 7 juta ummat yg siap mendampingimu, jgn run away lg dunk bib’.

 

“Sama seperti netizen lain saya hanya mengungkapkan isi hati tanpa maksud apapun, tanpa mencantumkan nama dan foto,” ujarnya.

 

Tidak lama setelah postingan tersebut, dirinya mendapat banyak kecaman sehingga postingan tersebut dihapusnya. Beberapa hari kemudian, Fiera didatangi intel kepolisian yang menyatakan postingannya tersebut sudah diviralkan dengan alasan menghina ulama, bahkan kelompok FPI sudah bersiap menggrebek dan menangkap dirinya.

 

“Foto saya dan anak saya diambil lalu diedit menjadi tidak senonoh, makin lama situasi menjadi tidak terkendali, rumah saya didatangi orang pada dinihari,” kata Fiera.

 

Tak hanya itu, pihak FPI juga mendatangi rumah sakit tempatnya bekerja. Dalam pertemuannya dengan pihak FPI, Fiera disuruh membuat surat pernyataan permintaan maaf dan diceramahi agar tidak mengulangi perbuatannya.

 

“Setelah membuat surat pernyataan dan foto bersama, ternyata masalah tidak selesai. Foto-foto saya tetap diviralkan, ditambahi tuduhan saya telah menghina ulama, dituduh komunis. Intimidasi dan teror masih berlanjut,” ujarnya.

 

Melihat kondisi seperti ini, Fiera akhirnya memutuskan untuk keluar dari Sumatra Barat. “Pada 29 Mei saya dijemput relawan untuk pergi ke Jakarta, dari Solok ke bandara di Padang pun saya dikawal Patwal,” ujarnya.

 

Dia berharap kasus serupa tidak terjadi lagi, apalagi Indonesia sudah menyatakan diri sebagai negara hukum.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*