Breaking News

Bekingi Isteri Kedua Nipu Pakai Bisnis Arisan, Dipindah, Kombes Yang Satu Ini Malah Nyaman Di Poldasu

Bekingi Isteri Kedua Nipu Pakai Bisnis Arisan, Dipindah Ke Poldasu, Kombes Yang Satu Ini Malah Anteng Aja.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian didesak menindak tegas anak buahnya yang melakukan pelanggaran hukum. Apalagi, jika anak buahnya yang merupakan petinggi di Korps Kepolisian, maka tindakan tegas dan tak main-main harus dilakukan.

 

Koordinator Lembaga Bantuan Hukum Amanat Sakti (LBH AMANAT) Rapen AM Sinaga menagih janji Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian untuk membuktikan bahwa Kepolisian Republik Indonesia akan menindak tegas anggotanya yang melakukan tindakan penyelewengan dan pelanggaran hukum.

 

“Pak Kapolri Jederal Polisi Tito Karnavian harus menunjukkan bukti bahwa tindakan tegas kepada para anggota Kepolisian yang melanggar hukum ditindak tegas. Reformasi di tubuh Kepolisian kembali dipertanyakan jika masih saja membiarkan para anggota dan perwiranya melanggar hukum tanpa sanksi tegas,” tutur Rapen AM Sinaga, di Jakarta, Senin (14/08/2017).

 

Dia menjelaskan, bukan hanya anggota biasa, sekelas perwira pun masih banyak yang harus ditindak tegas. Diungkapkan Rapen, salah seorang perwira Polri yang diketahui melakukan penipuan besar-besaran kepada warga masyarakat adalah Kombes Pol Erdi Rahadian.

 

Pada 2016, lanjut dia, mantan Auditor Itwil IV Itwasum Polri itu mengelola sebuah bisnis berkedok invetasi dengan nama Mommy Trendy Center (MTC) bersama isteri kedua Si Kombes itu sendiri.

 

Nah, dengan alasan bermain arisan, Kombes Pol Erdi Rahadian bersama isteri keduanya bernama Miranthy Mirtha menggelapkan dan membawa kabur uang hingga miliaran rupiah.

 

“Sejak saat itu, tidak bisa dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan, 2016 itu, para korban penipuan si perwira Kombes Pol Erdi Rahadian pun telah melapor ke Propam Mabes Polri, tetapi tidak ditanggapi,” ungkap Rapen.

 

Nah, ternyata, lanjut Rapen, karir Kombes Pol Erdi Rahadian tidak redup. Kini Kombes Pol Erdi Rahadian malah dipromosikan sebagai Kepala Bidang Keuangan (Kabid Keu) di Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) sejak akhir 2016 lalu.

 

“Masih aktif sebagai anggota Kepolisian, dan malah naik pangkat dan jabatan sebagai Kabid Keuangan Polda Sumatera Utara,” ujar Rapen.

 

Rapen pun sudah meminta Kepolisian Republik Indonesia agar menindak tegas Kombes Pol Erdi Rahadian. Selain itu, uang pada korban yang dibawa kabur, harus dikembalikan. Namun, hingga sekarang, kata dia, Kepolisian Republik Indonesia malah mendiamkan laporan ini.

 

“Nah, Pak Kapolri Jenderal Tito Karnavian, buktikan dong kalau bisa menindak tegas anak buah yang berbuat salah,” tantang Rapen.

 

Paling tidak, lanjut Rapen, sebanyak enam orang korban penipuan yang dilakukan oleh Kombes Pol Erdi Rahadian bersama isteri keduanya Miranthy Mirtha sudah datang melapor dan meminta didampingi agar persoalan ini dapat diselesaikan.

 

Para korban itu adalah, Nurida Siahaan yang uangnya dilarikan sebesar Rp 618. 050. 000,-; Djauhum Saragih (ID Aries F)  sebesar Rp 487. 500. 000,-;  Srianto sebesar Rp 296. 250. 000,-; Samuel Jo, sebesar Rp 1. 014. 500. 000,-;  Elena Hasibuan, sebesar Rp 199. 500. 000,- dan  Fenny Novita Armalia sebesar Rp 86. 250. 000,-.

 

“Dari keenam korban yang melapor saja sudah sebesar Rp 2. 702. 050. 000,- (Dua Miliar Tujuh Ratus Dua Juta Lima Puluh Ribu Rupiah) yang ditipu Sang Kombes Pol Erdi Rahadian bersama isteri keduanya Miranthy Mirtha. Dan, masih banyak korban lainnya, yang belum berani melapor,” ujar Rapen.

 

Sementara itu, Kombes Pol Erdi Rahadian mengelak bahwa dirinya harus bertanggung jawab dalam urusan bisnis investasi bodong berkedok arisan itu.

 

Salah seorang korban penipuan itu, Elena Hasibuan, mengaku sudah tidak mengerti bagaimana lagi caranya supaya para pelaku ditindak tegas. Dia juga berharap, pimpinan Mabes Polri bertindak agar uangnya dikembalikan.

 

“Bingung mau mengadu kemana lagi. Kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan segera,” ujar Elena.

 

Sedangkan korban Fenny Novita Armalia mengaku ragu apakah Mabes Polri bisa menindak anak buahnya seperti itu. Soalnya, sudah sejak 2016 hal ini dilaporkan, namun tak kunjung ditindak.

 

“Kami kini berharap dan menunggu saja,” ujar Fenny.

 

Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang Keuangan Polda Sumatera Utara itu menyerahkan penyelesaian kepada isteri keduanya yakni Miranthy Mirtha.

 

“Tentunya Ibu Miranthy yang bertanggung jawab. Silakan saja untuk menghubungi Ibu Miranthy,” ujar Kombes Pol Erdi Rahadian, ketika dikonfirmasi.

 

Kombes Pol Erdi Rahadian juga menegaskan bahwa dirinya tidak mau diseret-seret terlibat dengan bisnis investasi bodong lewat Mommy Trendy Center (MTC) itu.

 

“Saya jelaskan, pertama, saya tidak pernah ikut dalam kegiatan arisan atau investasi tersebut. Kedua, permasalahan ini sudah dikuasakan penyelesaiannya kepada Pak Aulia Fahmi dari kantor Pengacara Ramdhan Alamsah and patner,” tuturnya.

 

Kombes Pol Erdi Rahadian yang juga Mantan Auditor Itwil IV Itwasum Polri itu bersikeras bahwa dirinya tidak mau bertanggung jawab. “Sama sekali saya tidak ada ikut dalam kegiatan tersebut. Tentang penyelesaiannya, silahkan hubungi Pak Aulia Fahmi tentang bagaimana pengembaliannya,” ujar Kombes Pol Erdi Rahadian.

 

Kombes Pol Erdi Rahadian juga yakin bahwa dirinya tidak akan disentuh oleh Mabes Polri ataupun atasannya. Soalnya, menurut dia, pada pemeriksaan atas laporan para korban di Propam Mabes Polri 2016 lalu, secara internal tidak dinyatakan bersalah.

 

“Waktu itu, saya juga sudah klarifikasi dengan atasan saya. Dan juga saya sudah klarifikasi kepada Propam Mabes Polri karena saya dilaporkan ke Propam Mabes Polri pada waktu,” ujar Kombes Pol Erdi Rahadian.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*