Breaking News

Bekerja Puluhan Tahun di Perusahaan Orang Cina, Begitu Mengalami Sakit Malah Dipensiundinikan, Bagaimana Sikap Perusahaan Dan Pemerintah?

Bekerja Puluhan Tahun di Perusahaan Orang Cina, Begitu Mengalami Sakit Malah Dipensiundinikan, Bagaimana Sikap Perusahaan Dan Pemerintah?

Seorang Ibu bernama Ennyke P Manullang, berusia 53 tahun, kini masih terbaring dalam perawatan ekstra intensif di Modern Hospital Guangzhou, Cina.

 

Ibu Ennyke divonis menderita sakit kanker. Memang, sejak 2015, Ibu beranak dua ini sudah divonis mengalami sakit kanker di sekitar tenggorokannya.

 

Warga Indonesia yang bermukim di Perumahan Permata Timur Blok F Nomor 1, Pondok Kelapa, Jakarta Timur itu sejak usia muda sudah bekerja di sebuah perusahaan milik keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia.

 

Perusahaan yang kini sedang berkembang pesat di dalam bisnis property di Jakarta itu adalah PT Roheda Sejati.

 

“Sejak tahun 1990, isteri saya sudah bekerja di PT Roheda Sejati itu, di bagian staf logistik. Saat perusahaan itu masih dikelola langsung oleh orang tuanya si pemilik yang sekarang,” tutur Jainal Pangaribuan, suami dari Ibu Ennyke P Manullang, saat berbincang di Jakarta, Selasa (27/12/2016).

 

Terhitung sudah 26 tahun Ibu Ennyke menjadi pekerja di perusahaan PT Roheda Sejati. Hingga pada bulan Juli 2016, Ennyke diminta oleh pihak perusahaan tempatnya bekerja untuk mengajukan pensiun dini, lantaran dianggap sudah mengalami sakit berat dan akan banyak menghabiskan uang untuk biaya perobatan.

 

“Isteri saya mulai mengalami sakit kanker pada awal 2015. Dia masih terus bekerja di perusahaan PT Roheda Sejati, sesekali minta ijin berobat dan cuti untuk berobat, hingga diminta mengajukan pensiun dini pada Juli 2016 lalu,” ungkap Jainal.

 

Jainal menyampaikan, sudah berbulan-bulan isterinya berobat ke Cina. Bahkan kini, mereka terpisah, karena Ennyke harus dirawat di Cina.

 

“Dari semua rumah sakit yang saya datangi, tidak ada yang sanggup mengobati sakit kanker yang dialami isteri saya. Akhirnya bertekad dibawa ke Guangzhou. Saya tak mungkin di sana terus, saya harus bekerja dan mencari uang untuk kebutuhan biaya perobatan yang sangat besar. Hingga saat ini, isteriku masih di rawat di Cina, menjalani terapi-terapi demi kesembuhan esofagus cancer yang dideritanya,” tutur Jainal.

 

Sementara, alasan yang disampaikan pihak perusahaan kepada Ennyke agar segera mengajukan pensiun dini, selain karena sakit, perusahaan juga sedang mengalami reorganisasi dan kesulitan keuangan.

 

“Memang, perusahaan sudah memberikan kompensasi dari pensiun dini yang diminta harus diajukan isteri saya. Tetapi, jumlahnya tidak signifikan untuk biaya berobat seperti yang dijalani saat ini,” ungkap Jainal.

 

Dengan kerendahan hati, Jainal mencoba berkomunikasi kembali dengan pihak PT Roheda Sejati di Plaza Oleos, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Tujuannya, minta kebijaksanaan agar pihak perusahaan dimintai tolong dalam membantu pembiayaan perobatan Ennyke.

 

“Saya selalu upayakan untuk bisa bertemu dengan bos PT Roheda Sejati Bapak Robert Sutanto. Tidak pernah ada respon. Sementara, saya dan keluarga sudah kian terdesak untuk pembayaran biaya perobatan isteriku yang sekarang masih tertahan di rumah sakit di Guangzhou. Karena kekurangan biaya, saya kembali dulu ke Indonesia, sebab Desember ini kami diharuskan melunasi dulu kekurangan biaya sebesar Rp 150 jutaan. Saya sudah tak punya uang,” ungkap Jainal.

 

Plaza Oleos tempat kantor pusat PT Roheda Sejati, adalah milik perusahaan itu. Jainal meyakini, perusahaan sebesar itu tidaklah mungkin mengalami kesulitan keuangan saat ini.

 

Jainal berharap, ada keadilan dan pertolongan dari pihak pemerintah Indonesia, dari Kementerian Tenaga Kerja, dari Kementerian Kesehatan dan terutama dari pihak PT Roheda Sejati untuk membantu pembiayaan perobatan isterinya di Cina.

 

“Saya tadinya sarankan untuk rehat dulu perobatan dan akan saya bawa isteri saya kembali dulu ke Indonesia. Nyatanya saya tak bisa membawanya, tertahan, karena tak punya uang melunasi pembayaran di rumah sakit di sana,” ujarnya.

 

Dia merasa diperlakukan tidak adil lantaran isterinya yang sudah dua puluh enam tahun lebih mengabdi ke PT Roheda Sejati, malah disuruh mengajukan pensiun dini sediri karena sakit.

 

“Kok lagi mengalami sakit berat begini, malah seperti dibuang dengan tekanan pengajuan pensiun dini. Saya hanya mohon semua pihak melihat dan memberikan pertolongan dan keadilan bagi isteri saya. Semoga perusahaan masih memiliki nurani, kiranya pemerintah dan pejabat terkait juga bisa tergerak hatinya atas persoalan ini,” pungkasnya pasrah.

 

Menanggapi persoalan ini, Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf menyampaikan, pihaknya akan segera berkomunikasi dengan pihak kementerian kesehatan untuk menyelesaikan persoalan yang dialami oleh Ibu Ennyke.

 

“Nampaknya penyakitnya memang sudah cukup berat.  Mungkin perusahaan secara normatif aturan punya batas pemberian bantuan. Namun, secara kemanusiaan dan sudut pandang pengabdian beliau (Ibu Ennyke) yang sudah lama kepada perusahaan, sebetulnya masih ada cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan, seperti bantuan melalui CSR yang bisa digerakkan. Karena dasar CSR adalah untuk hal-hal sosial. Saya akan coba kontak ke Kementrian, agar bisa memfasilitasi hal ini juga,” ujar Dede Yusuf ketika dikonfirmasi.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*