Breaking News

Aktivis Angkatan 66: 20 Tahun Reformasi Suara Rakyat Masih Dibungkam, Parpol Tak Mewakili Rakyat

Aktivis Angkatan 66: 20 Tahun Reformasi Suara Rakyat Masih Dibungkam, Parpol Tak Mewakili Rakyat.

Evaluasi 20 tahun Reformasi, Aktivis Angkatan 66 menyebut, hingga pemerintahan Joko Widodo ini, suara dan aspirasi masyarakat masih tetap dibungkam.

Aktivis Angkatan 66 Thomas Sitepu mengatakan, tidak ada yang berubah semakin baik dari cara-cara rezim lama hingga saat ini.

“Coba perhatikan, semua suara-suara kritis dibungkam. Aspirasi dan kepentingan masyarakat tidak didengar, malah dibungkam. Itu terjadi hingga saat ini,” tutur Thomas Sitepu, Selasa (22/05/2018).

Pria yang semasa menjadi aktivis cukup viral karena menggelar aksi unjuk rasa membawa poster dari Bandung ke Kantor Presiden Soeharto di Bina Graha, Jakarta itu menegaskan, semua partai politik di era reformasi tidak memikirkan rakyat. Agenda-agenda reformasi yang dikumandangkan pun perlahan dikubur, dan malah balik menindas rakyat.

“Semua persoalan di republik ini dikanalisasi dan tidak didengar oleh parpol. Jangan berharap bahwa parpol akan menyuarakan dan memperjuangkan amanat penderitaan rakyat. Anggota parpol termasuk aktivis yang masuk di dalamnya hanya memikirkan parpolnya, tidak memperjuangkan aspirasi rakyat kok. Parpol-parpol saat ini sama saja, bulshit,” ujarnya.

Thomas Sitepu pada 16 Desember 1981 memasuki Jakarta dan menyampaikan aspirasi rakyat. Dia berharap, para reformis gadungan yang banyak berkeliaran saat ini tidak perlu didengar.

Thomas Sitepu diijinkan memasuki Jakarta, setelah Pangdam Jaya waktu itu Mayjen Hendro Priono memberikan garansi bahwa dia tidak akan diganggu menyampaikan aspirasinya ke Bina Graha.

“Pangdam Jaya waktu itu Mayjen Hendro Priono. Dia mengatakan di dalam pertemuan di sekitar Gambir, bahwa Thomas Sitepu tidak akan diganggu dan keselamatannya dijamin melakukan aksinya hingga ke Bina Graha,” tutur Thomas.

Lebih lanjut, pria yang pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat di usia 21 tahun itu menegaskan, para aktivis reformasi saat ini sudah melenceng dari garis perjuangannya untuk melaksanakan amanat penderitaan rakyat.

“Persoalan-persoalan rakyat tidak digubris. Ada yang bersuara kritis pun saat ini tetap dibungkam dengan berbagai cara. Apakah begini reformasi yang kita inginkan? Sudah 20 tahun loh,” ujarnya.

Thomas mengajak seluruh elemen masyarakat agar tetap bersikap dan bertindak kritis untuk memperjuangkan aspirasi dan amanat rakyat. Dia tidak percaya bahwa watak parpol telah berubah menjadi baik saat ini.

“Reformasi hanya dijadikan bungkusan busuk, yang tak pernah sungguh membiarkan rakyat diperjuangkan. Tidak ada perjuangan sungguh untuk amanat rakyat lewat parpol-parpol yang ada saat ini,” tuturnya.

Bahkan, untuk proses demokratisasi, dari mulai Pilkada hingga Pileg dan Pilpres, lanjut dia, semua merupakan settingan yang sudah ada pemenangnya.

“Proses demokratisasi saat ini hanyalah formalitas. Pemenangnya sudah ada dan sudah ditentukan kok. Formalitas saja semua itu,” tutupnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*