Breaking News

Aksi Melawan Teror, Kelompok Cipayung Plus Jakarta Deklarasikan Terorisme Musuh Bersama

Aksi Melawan Teror, Kelompok Cipayung Plus Jakarta Deklarasikan Terorisme Musuh Bersama.

Kelompok Cipayung Plus DKI Jakarta menggelar aksi dan deklarasi melawan terorisme dan menjadikannya sebagai musuh bersama.

Maraknya kembali aksi-aksi pengeboman dan teror, seperti yang terjadi di Mako Brimob, gereja-gereja di Surabaya dan juga Mapolda Pekanbaru, Riau, adalah wujud kejahatan oleh teroris.

Aksi-aksi itu pun dianggap mendiskreditkan Umat Islam Indonesia, lantaran sering dikira bahwa terorisme adalah ajaran Islam.

Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta Raya M David Aqmal menegaskan, Islam bukan teroris dan ajaran Islam tidak pernah mengajarkan tindakan terorisme.

“Teroris bukan Islam. Dan perbuatan teror bukan bagian dari ajaran Islam. Karena Agama Islam tidak mengajarkan hal seperti itu,” ujar David Aqmal, dalam Aksi Kemanusiaan dan Solidaritas Kelompok Cipayung Plus DKI Jakarta, di Kantin UMKM Universitas YARSI, Cempaka Putih Jakpus, kemarin.

Sementara, Ketua Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) DKI Jakarta, M Muhadzab menyebut, perbuatan teror tidak bergerak hanya dalam aksi-aksi dunia nyata, tetapi juga digalang secara massif lewat media sosial.

“Aksi terorisme juga dilakukan secara massif melalui medsos. Jadi kita harus cerdas menyikapi berita yang beredar, jangan sampai terprovokasi,” ujarnya.

Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Jakarta Agung Tamtam Sanjaya Butar-butar berpendapat, tindakan teroris merupakan perbuatan biadab yang harus dilawan secara bersama-sama. Terorisme, lanjut Tamtam, harus dijadikan sebagai musuh bersama.

“Terorisme adalah juga tindakan pengecut. Kita semua harus bersatu melawannya. Pemerintah maupun seluruh elemen masyarakat, mesti satu padu melawan teror dan menjadikannya musuh bersama. Kita mulai dari lingkungan sekitar kita,” tutur Tamtam.

Dia juga meminta lembaga eksekutif dan legislatif tidak sibuk berpolemik mengenai dasar hukum pemberantasan aksi-aksi terorisme. Menurut Tamtam, lembaga-lembaga itu harus segera membuat regulasi yang kuat.

“Eksekutif dan legislatif harus membuat regulasi untuk menangani tindakan teroris,” ujarnya.

Sementara, Ketua Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Rakanda Zein Abdurrohim menyampaikan, Presiden Jokowi harus segera mengevaluasi beberapa instansi yang sangat berkaitan langsung mengatasi terorisme di Indonesia.

“Presiden harus mengevaluasi lembaga-lembaga seperti BIN, Polri, TNI dan BNPT, agar kinerja dapat maksimal,” ujar Zein Abdurrohim.

Kordinator Wilayah Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (Semmi) Dodi Hidayat, sembari menyampaikan rasa belasungkawa kepada para korban teroris, menekankan pentingnya kesatuan hati melawan terorisme.

“Kita harus bergandengan tangan melawan segala bentuk teror,” ujar Dodi.

Ketua Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Syahril mengatakan, teror adalah musuh bersama yang tidak hanya dilawan dengan cara-cara biasa saja.

“Teror dan terorisme adalah musuh kita bersama. Kita harus melakukan perlawanan dengan massif. Kita jangan mau kalah dengan teror,” ujar Syahril.

Ketua Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) Jakarta Timur, Pandita Susila Darma mengejar kinerja legislatif dan pemerintah dalam mengesahkan Undang Undang Anti Terorisme. Menurut dia, UU itu harus segera diberlakukan.

“DPR dan Pemerintah harus mengesahkan RUU Anti Terorisme, agar kita bisa melawan teror dengan landasan hukum yang jelas,” ujar Pandita Susila Darma.

Di tempat yang sama, Dirbinmas Polda Metrojaya, Kombes Pol Sambodo mengatakan, jika seluruh elemen masyarakat, terutama mahasiswa dan pemuda telah menyatakan terorisme sebagai musuh bersama, maka perkembangan terorisme di Indonesia pasti bisa diberantas.

“Kami berterimakasih kepada Kelompok Cipayung Plus DKI Jakarta, karena berkomitmen menyatakan teroris sabagai musuh bersama. Justru para anggota Polisi yang gugur itu adalah anggota Polri yang meninggal karena ber-jihad. Mereka melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya demi bangsa dan negara,” ujar Kombes Pol Sambodo.

Aksi kemanusiaan dan solidaritas ditutup dengan foto bersama, bergandengan tangan sebagai komitmen untuk melawan teror.(JR)