Breaking News

Ahok Dianggap Bukan Nasionalis Sejati, Politisi Muda PDIP Sodorkan Faisal Basri dan Djarot Maju di Pilgub DKI

Di kalangan muda, sosok Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta bukanlah figur yang pas untuk memimpin provinsi yang sangat plural dan memiliki kompleksitas persoalan yang beragam seperti Jakarta.

Politisi muda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Pilian P Hutasoit menyampaikan, Ahok sendiri masih perlu belajar lebih banyak sebelum akhirnya masih berkeinginan maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta pada 2017.

“Jakarta itu sangat kompleks dan sangat plural. Demikian juga persoalan yang dihadapi masyarakat Jakarta. Kalau sekarang Ahok bisa memimpin Jakarta, itu karena kecelakaan proses di masa lalu. Dia sebetulnya belum layak menjadi Gubernur, sebab sangat emosional, sectarian dan bukan sosok nasionalis. Padahal, Jakarta membutuhkan sosok yang sangat nasionalis,” ujar Pilian Hutasoit di Jakarta, Kamis (10/03/2016).

Menurut Eks Aktivis Mahasiswa 1998 ini, pro dan kontra terhadap berbagai figur yang akan maju menjadi calon orang nomor satu di DKI Jakarta memang selalu mewarnai proses pemilihan dari masa ke masa.

Tetapi bagi Pilian P Hutasoit, selama Ahok menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, belum ada terobosan konkrit yang dilakukan mantan politisi Golkar itu di Ibukota.

“Keberhasilan yang disebut dan diklaim Ahok sebagai keberhasilan hanyalah karena dia beruntung meneruskan masa bakti bapak Jokowi yang menjadi Presiden RI,” ujar Pilian.

Dikatakan dia, tak banyak hal dan karya Ahok yang bisa dibanggakan karena memang tugas dan kewajiban seorang gubernur untuk berlaku tegas, jujur dan wibawa.

“Apakah Ahok juga memiliki ketiga hal diatas? Tak satupun dari 3 hal diatas yang dimiliki oleh ahok ini,” kata Caleg PDI Perjuangan 2014, DKI Jakarta ini.

Untuk urusan tegas, lanjut Pilian, ketegasan yang dimiliki bekas Bupati Belitung itu hanya tajam kepada masyarakat kecil dan yang tak mampu.

“Buktinya, penggusuran-penggusuran yang dilakukan oleh Ahok hanya untuk masyarakat kecil Jakarta. Seperti pedagang kaki lima, pengusuran teluk Jakarta dan lainnya. Apakah Alexis, kawasan perumahan mewah muara angke, Kelapa Gading dan lainnya yang membuat banyak rumah penduduk menjadi banjir dan tenggelam pernah menjadi perhatian Ahok? Tentu tidak,” kata Pilian.

Soal kejujuran, Pilian mengatakan Ahok hanya jujur untuk persoalan pengusuran masyarakat kecil dengan gayanya mempresentasikan blue print soal target pengusuran yang dia lakukan.

“Apakah  Ahok jujur juga soal blue printnya tentang targetnya untuk teluk Jakarta?” ujar Pilian.

Dari kewibawaan, Pilian mengatakan, bekas politisi Gerindra itu tidak menjaga mulutnya karena berbahasa dengan seenak udelnya itu yg disebut wibawa? “Apakah arogan karena dia gubernur itu yang disebut wibawa. Banyak masyarakat DKI Jakarta terhinoptis dengan gaya Ahok,” ujarnya.

Pilian Hutasoit mengajak warga Jakarta akan lebih jeli dalam memilih pemimpin Jakarta kedepan, jangan terpedaya. “Masih banyak pemimpin ideal yang pintar, berkarakter, cool, mempunyai visi dan misi yang jelas buat Indonesia khususnya Jakarta serta sudah teruji,” kata Pilian.

Kalau ditanya siapakah sosok itu, menurut Pilian Hutasoit, itu ada di figur Faisal Basri. “Beliau figur yang cocok buat memimpin Jakarta, figur yang sangat sederhana, bertutur bahasanya baik dan benar dan pro rakyat,” katanya.

Menurut dia, Faisal sebagaimana visinya dan misinya serta sepak terjangnya mumpuni. “Kalau ditanya partai mana yang akan mendukung Pak Faisal itu kita serahkan ke partai dan saya serta basis konsituen saya so pasti tidak akan memilih Ahok,” ujarnya.

Selain Faisal Basri, menurut Pilian, figur Djarot Syaiful Hidayat Wagub DKI Jakarta yang juga sangat layak untuk dipertimbangan oleh masyarakat Jakarta.

“Pengalaman beliau selama menjadi walikota dan wagub patut sangat untuk menjafi bahan pertimbangan masyarakat Jakarta. Bila figur-figur diatas dipadu, maka impian Jakarta memiliki pemimpin yang jujur, tegas, dan berwibawa akan terwujud, bukan pemimpin Jakarta yang tempramental dan emosional. Bukan pemimpin Jakarta yang arogan, bukan pemimpin Jakarta yang anti rakyat kecil tapi pro pengusaha, bukan pemimpin yang tidak elok dalam bertutur bahasa,” kata Pilian.(JR-1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*